Panen Terakhir Kita


Desa itu bernama Sri Makmur. Diambil kata Sri yang berhubungan dengan tanaman padi dan Makmur yang artinya berkecukupan. Dulunya Desa Sri Makmur dikenal sebagai daerah penghasil padi, desa makmur beras. Tapi sekarang tidak lagi, semenjak tanah luas tempat menanam padi beralih fungsi menjadi perumahan, toko, dan lahan tanaman keras. Tidak ada lagi rembug turun semai, tidak ada lagi keriuhan sambatan menanam padi, tidak ada lagi batang-batang padi di lumbung. Bahkan masyarakat yang dulunya gemar bergotong royong sekarang menjadi individual. Tapi semua berubah lagi, semenjak ada program cetak sawah yang dilaksanakan pemerintah.

Hamparan sawah tampak kuning keemasan, semilir angin berhembus membelai bulir-bulir padi yang merunduk. Di atas sana matahari panas menyengat, arahnya sudah hampir berada di ubun-ubun.

“Hasil padi kali ini tergolong bagus, berisi banyak dan padat.” Ibu tani sengaja mengeraskan suaranya, sembari memanen padi memakai ani-ani.

“Iya. Bulirnya sampai menjuntai ke tanah.” Sahut Lelaki di petak sawah sebelahnya. Dia sedang Nyabet.

“Sayangnya hama tahun ini juga banyak. Burung, tikus, bahkan babi pun masuk sawah juga.”

“Kita panen, mereka pun ikut panen.”Seloroh Pak Tani.

Ibu tani hanya bisa menggeleng.

“Sudah berapa yang bapak panen?”

“Saya sudah panen padi 12 goni, semua sudah dibawa ke rumah. Ini mungkin masih ada sekitar 5 goni lagi yang belum panen.” Sahutnya lagi sambil memukulkan batang padi ke gepyokan. Biji-bijian padi pun menghambur ke terpal di bawahnya.

“Target saya 30 goni tahun ini, tapi mungkin hasil sawah tidak sampai 20 goni. Hama banyak.” Ada lesu keluar dari nada suaranya.

“Kalau kami hanya separuh dari musim lalu. Itu masih ada di saung.” Sahut Ibu tani sambil memandang ke arah gubuk kayu beratap rumbia.

“Tahun depan, kami tidak mau berladang lagi.” Sambungnya.

“Dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore mengawasi burung di sawah. Kalau tak begitu memang habis padi tak panen. Malamnya datang tikus dan babi hutan. Entah yang mana satu yang mau dijaga.” Kesalnya merepet.

“Kami entahlah, Bu. Lagian di lahan ini sudah banyak yang tanam sawit.” Kata si Bapak Tani sambil membuang jerami hasil hempasan. Dilemparnya pandangan ke sekeliling.

“Padahal lahan ini lokasi cetak sawah.” Ucapnya pasrah.

###

Di sebuah rumah seorang Bapak meminum kopi yang tersaji di atas meja. Dia baru saja selesai makan siang. Istrinya sedang mencuci piring di dapur. Bapak itu adalah yang paling awal menanam sawit di lahan cetak sawah. Yang lain hanya mengikuti karena sudah ada orang pertama yang menanam.

“Sudah tertanam sawitnya, Pak?” Tanya si Ibu sambil menyabun gelas kotor.

“Sudah. Lima tahun lagi pohon sawit itu akan berbuah.”

“Bagus. Paslah dengan waktu tamat sekolah sulung. Dia masuk kuliah, hasil sawit pun ada.” Timpal si ibu dengan nada yang cepat.

“Iya, Bu. Yang penting anak kita bisa sekolah tinggi. Bagi keluarga ini, pendidikan nomor satu. Itulah hal yang terpenting, menjadi jalan untuk mempertahankan dan meningkatkan ekonomi dan status sosial kita.” Jelasnya sambil menyambar koran yang tergeletak di bangku sebelahnya.

“Harapan kita tanaman sawit di tanah kita itu tumbuh subur.” Tutup si Bapak, lalu membuka lembar koran.

Si ibu pun segera menyelesaikan tugas cuci piringnya.

###

Hari baru saja menyambut malam. Jam di dinding yang tepinya berselimut jaring laba-laba baru saja berdentang tujuh kali. Seorang pemuda sedang membaca buku catatannya. Sore tadi telah berlangsung pertemuan di balai desa. Perangkat Desa mengadakan pertemuan untuk membicarakan kelanjutan kegiatan pertanian di lahan cetak sawah desa Sri Makmur. Dihadiri kepala desa dan anggota kelompok tani. Termasuk Ibu dan Bapak tani yang siang tadi memanen padi dan Bapak Pemilik lahan sawah yang ditanami sawit. Tapi ketika ditanya apakah akan melanjutkan pertanaman padi, tidak ada yang menjawab dengan pasti. Pertemuan itu pun tidak menghasilkan jalan keluar.

Si pemuda membolak balikkan buku catatannya, mencari hasil pertemuan sore tani. Dia ingin tahu apakah masih ada celah yang bisa menghasilkan solusi. Agar ke depannya lahan cetak sawah itu masih bisa dipakai bertanam padi oleh petani. Memang bukan hal yang mudah. Tahun ini para petani menghadapi berbagai masalah. Masuknya air pasang ke dalam persawahan, bukan hanya di lahan cetak sawah desa sri makmur, tapi juga di desa lain. Seluruhnya tanpa terkecuali. Ada yang masih bisa panen, namun tidak sedikit yang gagal total. Lahan yang sudah tergarami dengan air laut mestilah membutuhkan perlakuan khusus agar dapat ditanami padi kembali. Bertani lagi tahun depan? masih ada awan hitam bergelayut di benak petani.

Si pemuda memegang dahinya, lalu mengusapkan tangan ke kepala sampai ke bagian belakang leher. Gejolak batin sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, bekerja untuk persoalan makan penduduk desa. Jika dikaji lebih lanjut, pekerjaan nya secara nasional adalah menjamin tersedianya pangan bagi Penduduk sebuah negara, 300 juta jiwa. Maka kehilangan lahan sawah adalah sebuah mimpi buruk.

Jangankan kehilangan sawah yang menjadi beban baginya, menambahkan beberapa hektar pun pernah menjadi masalah baginya. Diawal pembangunan cetak sawah, dirinya disuruh mengubah fakta lapangan luas lahan cetak sawah itu. Mengenai luas lahan yang dicetak sawah sebenarnya hanya 36 Hektar saja. Karena pimpinan mengatakan sebaiknya dibulatkan menjadi 40 saja. Hatinya tidak menerima. Reputasi ayahnya yang seorang pegawai negeri sejati, tanpa korupsi hingga purnabakti membayangi jejak langkahnya. Menambahkan luas tanah 4 hektar pada sawah itu sama saja memanipulasi data. Jumlahnya memang kecil, namun sama saja. Membiarkan hal-hal kecil seperti ini suatu saat akan berani mengubah yang lebih besar, padahal tidak sesuai fakta lapangan.

Bagaiamana tidak iba hati, ketika usaha yang dilakukannya selama 5 tahun ini akan berubah sekejap mata menjadi lahan tanaman serupa, sama di sepanjang jalan yang dia lalui.

Apakah perjuangannya bersama kelompok tani yang tekun dibinanya akan menguap begitu saja?

Tidak, tidak akan menjadi seperti itu. Dia tidak akan membiarkan lahan yang sudah dicetak sawah mangkrak begitu saja. Dia akan mempertahankan lahan cetak sawah itu sekuat tenaganya.

###

Jam di lengan kanannya menunjuk pukul 8 pagi kala dia berangkat dari rumah. Tiba di desa sudah pukul 9.

Puluhan petani telah berkumpul di tengah sawah, ada yang duduk di pematang, di tepi parit, sebagian besar berdiri di depan si pemuda.

“Baiklah bapak dan ibu sekalian, saya sengaja mengumpulkan kita semua disini untuk membahas mengenai kelangsungan pertanian kita.”

“kita harus melawan kesewenang-wenangan ini. Kita tidak boleh menerima begitu saja. Sawah kita akan ditanamai tanaman sawit.”

“Betul! Kita sudah kerja keras membangun sawah ini. Dari pembukaan semak belukar hingga bersih tercetak lahan padi.”

Bukan main lagi dana yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk sawah ini. Mulai dari pembukaan lahan, pembangunan jalan usaha tani, hingga bak penampungan air serta irigasi.

Betul tu pak. Belum lagi bantuan benih, pupuk dan saprodi lainnya yang sudah dikeluarkan dinas.

Itu semua uang negara.

Kok sekarang seenaknya saja ingin mengubah semua itu menjadi lahan sawit.

Tidak bisa!

Tidak setuju!

Sibuklah suara-suara itu saling menimpali. Ada mata yang terbelalak, raut muka memerah. Membayangkan kerja keras mereka selama membuka lahan dengan alat berat, parang dan cangkul.

“baiklah bapak dan ibu sekalian, karena kita sudah satu suara. Maka kita tidak akan membiarkan masa depan lahan sawah ini berubah menjadi kebun sawit. Setuju?”

“Setuju!” Seru sekalian peserta rapat. Beberapa diantara mereka mengepalkan tangan ke udara.

“Sekarang saya tanya. Siapa diantara bapak dan ibu sekalian pemilik sah tanah di lahan sawah ini?”

Seketika suasaha hening. Seramai orang tak satu pun bersuara. Raut muka mereka sama datar. Tidak ada yang menoleh. Seolah satu sama lain sudah mengetahui jawaban pertanyaan itu. Beberapa menit berlalu, si pemuda menunggu jawaban. Hingga waktu berlalu, tak ada satu pun tangan teracung.

Tamat


Posting Komentar