Selama ini sebagian orang melihat tempurung kelapa sebagai limbah pengolahan buah kelapa. Umumnya pemanfaatan tempurung itu hanya sebagai bahan pembuatan arang. Menjawab tantangan untuk berinovasi, BPTP Riau memperkenalkan teknologi pembuatan asap cair dari tempurung kelapa. Asap cair tempurung kelapa mengandung senyawa fenol, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga dapat digunakan sebagai pengawet maupun disinfektan. Memanfaatkan limbah asap pada industri pembuatan arang tempurung kelapa menjadi asap cair akan menaikkan nilai tambah bagi industri tersebut, bahkan dapat mengatasi pencemaran lingkungan.
Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Bukit Batu mengirimkan tiga orang penyuluhnya ke Pertemuan Diseminasi Teknologi Asap Cair Tempurung Kelapa. Diseminasi teknologi tersebut berlangsung di Jalan Pertanian, Lantai dua gedung Perkantoran Balitbang (Badan Pelatihan dan Pengembangan) Kabupaten Bengkalis. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09:00 WIB. Acara diseminasi ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, tatanan normal baru Covid-19 yaitu membatasi jumlah yang hadir dan tetap menggunakan masker.
Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa pada prinsipnya, teknologi pembuatan asap cair dari tempurung kelapa cukup sederhana. Teknologi yang digunakan yaitu pirolisis (pembakaran untuk menghasilkan asap) dan teknologi kondensasi (pengembunan asap menjadi cair). Alat pembakarannya pun sangat mudah diperoleh karena dapat menggunakan drum bekas. Yang perlu diperhatikan adalah teknik untuk mempertahankan agar proses pembakaran tetap berlangsung hingga tempurung terbakar habis.
Setelah diperoleh asap cair dari dua teknologi tersebut, selanjutnya asap cair dimurnikan. Teknik pemurnian asap cair dilakukan dengan pengendapan dan penyulingan atau redestilasi. Dari dua teknik ini dapat dihasilkan asap cair murni grade 1 sebagai bahan pengawet. Selain itu, teknik pemurnian juga menghasilkan asap cair grade 2 yang cocok sebagai bahan biopestisida.
Pada akhir pertemuan dilakukan sesi tanya jawab, antara lain kemampuan produk asap cair ini digunakan sampai ke tingkat masyarakat. Kemudian perhitungan secara ekonomi bila dibandingkan dengan produk lain yang sudah ada di pasaran. Ditanyakan juga sebagai bahan pengawet pada makanan, apakah produk ini sudah aman tanpa senyawa beracun. Diakhir tanya jawab dijelaskan mengenai tingkat kepraktisan produk bila dibandingkan dengan produk berbahan kimia yang biasa ada di pasaran.


.png)
Posting Komentar