Panen Dan Pemasaran Labu Madu



Ini adalah pertemuan kedua dengan pak Suprayetno, ketua kelompok tani “Usaha Sepakat” yang berdomisili di Desa Sejangat. Balai penyuluhan pertanian Kecamatan Bukit Batu, telah memasukkan kelompok tani tersebut ke Simluhtan Kementerian Pertanian. Kelompok “Usaha Sepakat” beranggotakan 11 orang, unit produksi yang dikerjakan bidang hortikultura. Adapun pertemuan berlangsung di kebun labu madu yang sebentar lagi akan panen. Buah labu besar telah menguning bergelantung dari tempatnya merambat. Sementara itu senja sebentar lagi akan rebah di ufuk barat.

Sambil memangkas tanaman labu madunya, Pak Prayit menjelaskan bahwa hama yang menyerang tidak banyak. Hanya hama kumbang yang memakan daun labu, tapi masih dalam ambang batas, jadi belum dilakukan penyemprotan. Hama kumbang memakan daun, membuat lubang di tepi dan bagian tengah daun. Tapi di kebunnya tidak memakai semprot kimia.

“Jadi apabila sudah seperti itu, daun rusak dipangkas dan dibuang saja.” Imbuhnya.

Ketika ditanya mengenai pemupukan, Pak Prayit mengatakan bahwa kesuburan tanaman sebenarnya sudah cukup. Alasannya di awal penanaman sudah memakai pupuk kandang dan bokashi arang sekam. Namun untuk menjaga agar nutrisi tanaman tersedia, maka dilakukan penyemprotan pupuk organik seminggu sekali.

Pak Prayit lalu duduk di bangku kayu, menghitung biaya produksi yang ditanyakan. Dijelaskan bahwa kebunnya berisi 106 batang, satu polibag mengeluarkan biaya 5.000 an. Kebun labu madunya saat ini sudah panen 34 kg, jadi modal sudah kembali. Kini sudah masa tanam ketiga, hanya sedikit mengeluarkan ongkos produksi karena sudah ada media tanam sebelumnya.

Dari proses awal tanam sampai satu bulan, tanaman labu madu sudah mengeluarkan buah. Tanaman butuh proses pematangan buah paling cepat satu setengah bulan. Biasanya pada satu batang tanaman, akan muncul dua buah yang tidak sama besar. Pada akhirnya buah akan masak dalam waktu tiga bulan dan petani bisa melakukan panen. Agar bisa dikenali waktu masaknya, pada secarik kertas di tepi tanaman, petani menulis umur buah.

“Bila sudah panen, hasilnya disimpan dulu sampai paling cepat setengah bulan, agar buah menjadi lebih manis, kuning dan matang.” Sambungnya.

Ketika ditanya mengenai pemasaran, Pak Prayit menjawab untuk saat ini dijual kepada kerabat, tetangga, dan kedai terdekat. Jika hasilnya banyak, dibawa sampai ke Pasar Baru Kelurahan Sungai Pakning. Harga yang ditawarkan 20 ribu perkilogram.

“Sebenarnya untuk pemasaran tidak perlu khawatir. Labu madu ini bisa simpan untuk waktu yang lama, dan hasilnya menjadi lebih bagus. Ini sangat dirasakan manfaatnya saat harga jatuh. Kita bisa menyimpan terlebih dahulu.” Pungkasnya.

Posting Komentar