Kementerian pertanian mengajak masyarakat Indonesia melakukan gerakan ketahanan pangan nasional melalui konsep pangan dari pekarangan. Masyarakat bisa meningkatkan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah. Setiap keluarga di Indonesia didorong agar bisa memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Salah satunya melalui program Family Farming atau Pertanian Keluarga (PK). PK adalah kegiatan pertanian berbasis sumberdaya lokal yang dikelola secara bersama, pada lahan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan ekonomi keluarga.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bengkalis melaksanakan kegiatan Pertanian Keluarga. Program PK salah satunya ditempatkan di Desa Batang Duku, Kecamatan Bukit Batu. Adapun kelompok tani (Poktan) yang dipilih untuk melaksanakannya adalah Poktan Tunas Baru 1. Kelompok tani yang dipimpin oleh Bapak Jusnalita, berdomisili di Dusun Kenanga. Poktan Tunas Baru 1 melakukan usaha budidaya nenas, ubi jalar, keladi, kolam ikan lele dan ternak kambing.
Sejauh ini, hasil yang diperoleh dari kegiatan Pertanian Keluarga di Desa Batang Duku, Kecamatan Bukit Batu adalah panen berbagai tanaman, ikan dan ternak. Rinciannya sebagai berikut, panen perdana ubi jalar 230 Kg, Keladi 20 Kg. Ternak kambing berkembang dari 30 ekor menjadi 52 ekor. Panen keladi tahap dua 60 kg di lahan seluas 0,5 Ha. Panen perdana ikan lele seberat 10 kg.
Pendampingan kegiatan pertanian keluarga dilakukan oleh Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Bukit Batu. Ditemui di Dusun Kenanga Desa Batang Duku, Penyuluh Pertanian yang bertugas di lapangan, Nopida Erawati, SP, menjelaskan bahwa kelompok tani Tunas Baru 1 telah melakukan kerja keras dalam menjalankan kegiatan pertanian keluarga. Semoga hasil yang diperoleh nantinya sesuai dengan jerih payah yang telah dilakukan, sebab kegiatan PK di Desa Batang Duku memang dimulai dari awal. Dari kelompok yang bergelut di bidang perkebunan, menjadi kelompok pertanian pangan. Sebuah tugas mulia memberi kontribusi pangan untuk keberlangsungan hidup manusia. Kendala di lapangan tentu saja ada, termasuk kekompakan dan kerjasama anggota kelompok kala bekerja di kebun. Kemudian dari segi kelembagaan, organisasi kepengurusan kelompok tani masih perlu pembenahan.
“Semua itu perlahan bisa diperbaiki, karena kelompok Tunas Baru 1 memiliki modal pertemuan kelompok yang rutin diadakan setiap bulan, dipadukan pula dengan wirid dan arisan kelompok tani.” Tutupnya.


.png)
Posting Komentar