Pak Salika tersenyum lega. Menjelang pergantian tahun harga cabai rawit stabil. Ia bisa menikmati pendapatan yang menurutnya memuaskan. Kami berjumpa di depan rumahnya, di sebuah pondok kayu tempat semaian cabai berusia 10 hari dihamparkan.
Pak Salika adalah ketua kelompok tani “Moril” Desa Pakning Asal, Kecamatan Bukit Batu. Ia bertani di lahan kosong dekat rumahnya, di Gang Perjuangan, Desa Pakning Asal. Musim tanam ini ia mulai membudidayakan tanaman cabai rawit diawal tahun. Jumlah tanaman cabai rawit yang dibudidayakan 400 batang dengan media tanam Polybag.
Pak Salika pun menjelaskan mengenai proses dalam budidaya cabai rawit mulai dari pengolahan tanah.
“Pertama harus dilakukan yakni pengolahan tanah dengan mencampur tanah gembur, pupuk kandang dan bokashi arang sekam. Tanah tersebut dimasukkan ke dalam polybag berukuran kecil sebagai media semai bibit. Kemudian plastik polybag ukuran sedang disiapkan juga untuk media pembesaran cabai rawit. Tanah subur lalu dimasukkan ke dalam polybag ukuran sedang tersebut.” Jelas Pak Salika.
Disampaikan bahwa dalam masa pertumbuhan, apabila tanaman cabai rawit daunnya masih berwarna kuning, berarti masih perlu untuk diberikan pupuk. Lebih jauh, Pak Salika mengatakan bahwa untuk mengatasi hama dan penyakit ia menggunakan bahan dari alam.
“Manfaat dari pelatihan dulu, kami bisa membuat pestisida nabati untuk mengendalikan hama. Bahan dari tanaman ini juga bagus untuk mengatasi penyakit daun dan menyehatkan buah.” Imbuhnya.
Lalu diceritakan bahwa perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman cabai rawit, yakni air yang harus memadai. Biasanya dia melakukan penyiraman dengan menggunakan air yang diendapkan dari sumur bor.
Cabai rawit dalam polybag milik Pak Salika dipanen saat umur tiga bulan dan setelah itu dilakukan pemetikan selanjutnya seminggu sekali.
Untuk pemasaran hasil panen cabai rawitnya tidak perlu lagi membawanya ke pasar untuk dijual. Para pedagang dari Bengkalis Kota datang langsung ke lokasi pertanaman cabai rawit. Perbandingan harganya lebih mahal apabila di bawa menyebrang ke Pulau Bengkalis, di pasar lokal pakning, biasanya para pedagang meminta dengan harga yang lebih murah.
Pak Salika menambahkan bahwa, apabila perawatan cabai rawit diperhatikan dengan baik, dapat memproduksi hingga satu tahun. Harga cabai rawit pun cenderung stabil di tingkat petani. Lain halnya cabai merah yang harganya memang bisa melonjak tinggi. Tapi apabila harga turun, bisa sangat drastis yang membuat petani merugi.
Dari 400 batang cabai rawit yang ditanamanya di Tahun 2021, sudah memproduksi cabai rawit sebanyak 300 Kg.
“Harga cabai rawit untuk tingkat petani tahun ini tahun ini di kisaran Rp 28.00 ribu. Petani bisa menikmati hasil kerja kerasnya.” Tandas Ketua.



Posting Komentar