Perubahan iklim terjadi akibat pemanasan global, diyakini akan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak serius akibat perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrem, serta kenaikan suhu udara dan permukaan air laut merupakan dampak dari perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Di tingkat nasional sumbangan emisi karbon berasal dari degradasi hutan, kebakaran gambut, dan efek aktifitas di lahan pertanian.
Agenda kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 45 dilaksanakan virtual secara live di BPP kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Bertemakan “Bumi Makin Panas Pertanian Bagaimana?”. Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian didampingi oleh Kepala Pusat Penyuluhan Kementan RI.
Disampaikan pada pemaparan materi, bahwa di samping produksi pertanian yang ingin ditingkatkan, lingkungan juga harus diperhatikan. Yang bisa dilakukan adalah menurunkan emisi gas rumah kaca, untuk mengantisipasi dampak buruk perubahan iklim serta tetap menjaga kedaulatan pangan.
Inovasi teknologi pertanian dapat menjadi andalan dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman tapi tetap melestarikan kesuburan tanah. Misalnya pemupukan secara organik, menggunakan varietas rendah emisi, serta sistem pertanian cerdas iklim. Sehingga dihasilkan produk pertanian ramah lingkungan dan petani yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Sebagai catatan, sistem pertanian cerdas iklim adalah pendekatan pada pengembangan strategi pertanian, untuk mengamankan ketahanan pangan berkelanjutan dalam kondisi perubahan iklim. Tiga hal utama yang menjadi sasaran pencapaiannya adalah: peningkatan berkelanjutan produktivitas dan pendapatan pertanian, mengadaptasi dan membangun ketangguhan terhadap perubahan iklim, dan sedapat mungkin mengurangi dan atau meniadakan emisi gas rumah kaca.



Posting Komentar