Langit sepertinya baik-baik saja, hanya rintik gerimis yang membasahi sebagian sisi pulau harapan. Berita banjir bagai air bah memenuhi media cetak dan elektronik. Banjir dan kabut asap hampir setiap tahun mengepung provinsi Riau. Luapan air akibat ulah manusia sendiri kian hari makin mengganas. Ratusan hektar sawah, ladang dan perkebunan terkena imbas gagal panen dan putus jalur pemasaran. Rumah-rumah ditinggal penghuni karena tergenang air, beberapa daerah terancam terisolasi dari akses bahan makanan. Teringat kisah nabi Nuh yang kaumnya dihukum Tuhan dengan banjir bandang yang tak tanggung hebatnya. Namun sepertinya manusia sudah benar-benar lupa diri, tetap saja mengulangi kesalahan tanpa memikirkan konsekuensi yang akan mereka terima. Setengah tahun banjir, enam bulan berikutnya kabut asap, bahkan keledai saja tidak jatuh di lubang yang sama.
Sang surya bagai gadis pingitan yang bersembunyi di balik ceruk awan yang gelap. Saya memanaskan motor bebek bercorak hitam biru itu, sepertinya tali gas dan roda depannya sedikit bermasalah. Kucoba mengutak-atik barang itu agar berada di posisinya kembali, sambil menunggu Bung Ridwan keluar dari pintu posko. Di rumah sebelah, Om Sabil membongkar laptopnya yang sudah dalam masa tenggat kadaluarsa, laptop butut super berat yang sering disandangnya kemana-mana itu pagi ini jadi rewel. Sementara Mister Jejen memperbaiki sisiran rambut di depan cermin kecil berbingkai hijau. Aktifitas hari minggu yang tenang, badai proposal titipan anggota dewan sudah sedikit mereda. Seperti biasa di akhir tahun, proposal-proposal bantuan sosial saling mendahului bagai metromini di kota-kota besar.
Bung Ridwan sudah siap, motor sudah aman terkendali, kami pun berangkat menuju pelabuhan roro. Oh, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Arief Edysantoso, lahir di Bengkalis 11-01-1988, saya menyelesaikan studi di jurusan peternakan Universitas Islam Riau. Hobi motong rumput dan bersedekah, namun karena bersedekah itu tidak boleh disebut-sebut, maka saya tidak menuliskannya di sini. Hihihi. Selain motong rumput, kesenangan saya yang lain adalah bernyanyi, dengan satu lagu favorit yang berjudul ‘ayah’ yang dipopulerkan oleh Rinto Harahap. Tinggi badan 167 cm, berat badan 70 kg, potongan rambut cepak seperti tentara. Saya suka dengan hal-hal berbau kemiliteran, pernah bergabung dengan resimen mahasiswa saat kuliah dulu. Oh ya, satu hal lagi, saya paling tidak suka memakai baju yang tidak disetrika. Sekian dulu perkenalannya, saya akan lanjut bercerita tentang study tour dadakan mengenai hidroponik yang kami ikuti. Ayo kita ke Duri, ibukota Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.
Sesampai dipelabuhan roro rupat, kendaraan di lorong tunggu sudah tiada lagi, sepertinya semua sudah masuk ke dalam lambung kapal besi itu. Sebuah lambaian tangan dari petugas penjaga memanggil kami mendekat ke pagar.
“Cepat Om, kapal sudah mau berangkat.” Kata petugas berseragam putih itu.
“Bayar berapa ni?” Ridwan menimpali.
“30 ribu, dua orang.” Sambutnya lagi.
“Nih.” Kataku sambil menyerahkan pecahan sepuluh ribuan tiga lembar.
Petugas itu lalu membuka pagar, membiarkan kami masuk ke dalam dermaga dengan kecepatan maksimal.
“Kosong, bro.” Kataku pada Ridwan setelah kami melewati jembatan masuk roro.
“Yoi, bro” Sahut Ridwan dari belakang.
“Mantaplah ni, tak perlu antri lama dan kapal kosong pula.”
“Bisa main bulutangkis di tempat parkir nih.” Hihihi. Ridwan cekikikan.
“Naik yuk, cari mie buat mengganjal perut, bebunyi dah…” Ajakku.
“Ayo, dah laper juga ni.”
Kami lalu menaiki tangga besi menuju atas ruang penumpang, bau oli dan asap terasa menyengat kala kami berjalan menaiki tangga. Sesampai di dalam, rupanya dugaan kami benar, banyak kursi yang kosong, tidak perlu duduk di belakang dekat toilet. Huh, tak terbayang siksanya kala hanya pilihan itu yang tersedia. Kami pun duduk manis di depan tivi yang sedang memutar lagu dangdut, memesan mie instan dan minuman dingin. Angin lembut dan angin tenang mengantar kami ke kotamadya Dumai, persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke Duri.
Dari Dumai, perjalanan akan memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan kami singgah makan lagi, duo siberat yang tidak akan puas dengan mie instant saja, cacing dalam perut kami meminta nasi. Sehabis makan kami lanjut lagi, menyelip diantara kendaraan besar yang memadati jalan aspal yang sebagian sudah penyok terlindas ban-ban raksasa. Mamasuki kota Duri, kendaraan semakin menyemut, berseliweran kesana kemari tanpa saling sapa satu sama lain. Semut saja lebih ramah daripada manusia-manusia kota. Jam 4 sore kami singgah di kedai samping kantor camat Mandau, memesan teh dan kopi lalu berbincang sebentar. Rumah kawan yang kami tuju belum kami cari, katanya di belakang kantor camat ini. Kebetulan dia sedang keluar rumah, memberi ceramah mengenai hidroponik kepada para petani yang sedang terpukul akibat rendahnya harga sawit.
Baiklah, sambil menunggu kawan itu akan kuceritakan tentang hidroponik.
Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa. Semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya. Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat makanan.
Tanaman hidroponik bisa dilakukan skala skecil di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial. Beberapa kelebihannya antara lain ramah lingkungan, hemat air karena penggunaan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin. Tanaman hidroponik tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas. Lebih hemat waktu dan tenaga karena tidak perlu menyiramkan air setiap hari. Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga. Dapat tanam di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu dan dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim.
Adapun tanaman sayuran yang biasa ditanam melalui media hidroponik, yaitu:
1. Kangkung
Tanaman ini sebenarnya sudah termasuk tanaman air sehingga mudah dibudidayakan menggunakan metode hidroponik.
2. Brokoli
Tanaman ini mirip dengan kol. Sebenarnya brokoli hanya cocok dibudidayakan di dataran tinggi. Namun seiring perkembangan teknologi akhirnya tanaman ini bisa dikembangkan dimana pun.
3. Sawi hijau
Jenis sawi yang satu ini adalah yang paling mudah dibudidayakan dengan metode hidroponik. Selain itu, kebutuhan pasar akan sawi terus menerus meningkat.
4. Selada hijau
Tanaman ini biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun tropis. Tekstur tanaman yang satu ini sangat halus sehingga sering dijadikan bahan selada.
5. Buncis
Tanaman ini banyak dibudidayakan di Indonesia dan tidak sulit perawatannya. Untuk meningkatkan efisiensi, petani mulai banyak membudidayakan tanaman ini dengan metode hidroponik.
6. Pakcoy
Pakcoy adalah adalah sayuran hijau yang masih tergolong tanaman sawi. Bentuknya mirip dengan sendok. Biasanya digunakan sebagai bahan sop atau garnis.
Selanjutnya cara membuat rangkaian hidroponik secara sederhana, yaitu:
1. Siapkan beberapa pipa paralon dan sebuah pompa air kecil.
2. Lubangi pipa sesuai dengan ukuran media tanam. Pastikan jarak lubang sesuai dengan ukuran dan jenis tanaman yang ingin dibudidayakan
3. Susunan pipa sesuai kebutuhan dan estetika, asalkan paham dengan fungsi bagian-bagian hidroponik, maka bentuk pipa bisa sesuai selera.
4. Siapkan penampung air nutrisi pada ujung pipa yang lebih rendah.
5. Pasang pompa untuk mengalirkan air nutrisi, agar setiap tanaman menerima zat makanan secara merata.
Setelah rangkaian pipa hidroponik siap, lalu bahan nutrisi, media tanam dan benih sayur disiapkan, maka budidaya hidroponik siap dilakukan. Konsep dasar menanam hidroponik yaitu akar tanaman mendapat asupan dari air nutrisi yang telah dilarutkan. Perawatan bercocok tanam ala hidroponik, hanya menjaga sirkulasi nutrisi, oksigen, dan air agar jumlahnya mencukupi bagi tanaman.
Tibalah saatnya kami kembali lagi ke Pulau Rupat, setelah menerima cukup ilmu dan pengalaman merangkai pipa hidroponik. Dalam perjalanan kita butuh teman, sebaiknya ada seseorang yang bisa diandalkan. Saya dan Ridwan sudah berteman lama, baru kali ini kami mengadakan perjalanan bukan dalam ikatan dinas. Kami jelas berbeda, tetapi justru perbedaan itulah yang sepertinya membentuk suatu kekompakan dalam pertemanan. Ia tidak mempunyai kesamaan denganku dalam hal ketertarikan di bidang kemiliteran. Dia lebih akademis seperti halnya kesukaannya dengan kegiatan menulis. Kami sesekali bertukar ide dan saran dalam mencari jalan keluar atas masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
Mungkin karena kami sama-sama tinggal di posko.



Posting Komentar