Kalender di dinding kantor menunjukkan Hari Senin, Tanggal 26 Februari 2018. Unit Pelaksana Teknis-Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara, menggelar pertemuan bulanan penyuluh. Sebuah pertemuan yang mengakomodir kesadaran seseorang yang hadir di dalamnya untuk melakukan proses ‘Mendengar’ (listening). Suatu hal yang penting untuk mendengar gagasan-gagasan atau ide orang lain. Bila seseorang diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan secara bebas, maka gagasan awal ini akan memunculkan ide-ide baru dari para anggota yang lain. ‘Mendengar’ secara maknawi tidak hanya kegiatan fisik saja, bahwa telinga kita melakukan proses mendengar bunyi atau suara. ‘Mendengar’ merupakan sebuah proses memahami secara mendalam kemudian memberikan atensi terhadap isi pembicaraan dengan fokus. Karena itu, unsur ‘Mendengar’ perlu diaktifkan dalam mengasah intuisi kita ketika berada dalam pertemuan, agar hasilnya bisa mencapai harapan yang kita inginkan bersama.
Kegiatan pertemuan penyuluh pertanian ini berlangsung di Aula Kantor UPT-BPP di Ibu Kota Kecamatan Rupat, Kelurahan Batupanjang. Pertemuan yang rutin diadakan setiap bulannya ini, dihadiri langsung oleh Kepala UPT-BPP Rupat, Saherman SP dan Kepala Puskeswan Kecamatan Rupat, Drh. Jejen Sudrajat. Hadir juga staff kantor BPP dan Puskeswan, serta tidak lupa Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara.
Pembahasan pertama datang dari Dinas Pertanian di Bengkalis, perihal informasi lanjutan mengenai jenis dan jumlah bantuan untuk komoditi pertanian yang telah diajukan oleh kelompok tani. Sebagaimana diketahui bahwa UPT BPP Kecamatan Rupat dan Rupat Utara ikut berpartisipasi dalam upaya mencapai target Swasembada Pangan dalam Upaya Khusus (Upsus) Pajale (Padi, Jagung dan Kedelai). Melalui Kelompok Tani (Poktan) yang aktif menyediakan lahan, tenaga kerja dan kebersamaan kelompok untuk mewujudkan cita-cita mulia kedaulatan pangan nasional.
“Mohon disampaikan kepada ketua dan anggota kelompok tani kita bahwa dana pembelian Saprodi akan segera dicairkan ke rekening bendahara. Dana tersebut untuk membeli benih, dolomit, bahan organik, rhizobium dan pupuk untuk masing-masing tanaman.” Urai Pak Saherman.
Berdasarkan data yang baru saja diterima dari kabupaten, komoditi yang akan ditanam yaitu Kedelai di Poktan pada Kelurahan Batupanjang, Desa Dungun Baru dan Desa Pangkalan Pinang. Komoditi Padi sawah di Poktan Kelurahan Tanjung Kapal, Kelurahan Batupanjang, Desa Teluk Lecah serta enam desa lainnya di Kecamatan Rupat Utara. Untuk tanaman jagung, masih menunggu keputusan dicairkannya anggaran. Bila kemungkinan datangnya benih jagung lewat dari bulan Maret, maka terpaksa Rupat tidak mengambilnya. Ini dikarenakan waktu tanamnya sudah lewat, nantinya malah tidak akan mendapat lahan, sebab sudah ditanami padi.
“Ini adalah bantuan dari pusat yang dananya mencukupi tapi relatif minim, karena harus dibagi keseluruh pelosok nusantara. Jadi alokasi pembelian yang paling penting adalah benih dan rhizobium, karena tanpa rhizobium, tanaman akan tumbuh subur tapi tak berbuah. Sisa dananya baru dibelikan pupuk dan kebutuhan lainnya.” Saran Kepala BPP.
Waktu menunjukan pukul 10:00 WIB, peserta pertemuan PPL memasuki
materi inti sesuai tema yaitu ‘Menggunakan Obat-obatan Tradisional untuk
Ternak’. Pemateri khusus didatangkan dari Alumni Institut Pertanian
Bogor, yaitu Dokter Hewan Jejen Sudrajat.
Apabila ternak terserang
penyakit, alangkah baiknya jika segera mungkin diobati. Bila dibiarkan,
akan menyiksa bagi hewan ternak, juga bisa menulari ternak lainnya yang
masih sehat. Kemunculan berbagai macam penyakit cukup meresahkan petani,
sedangkan pengobatan yang terkontaminasi kimiawi bisa membahayakan.
Sebagai langkah yang alami, mudah dan praktis, kita bisa mengobati
ternak dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Setidaknya ini
menjadi langkah awal untuk membantu kesembuhan ternak serta mencegah
bahaya lebih lanjut.
Berdasarkan kasus-kasus yang paling sering dijumpai di lapangan, penyakit yang menyerang ternak di Pulau Rupat sebagai berikut.
• Kembung, ditandai dengan membesarnya bagian kiri dari perut ternak, bila di pukul dengan lembut akan berbunyi seperti gendang. Cara pengobatannya sangat mudah, yaitu memberi minum ternak dengan minyak goreng. Untuk ternak dewasa atau indukan, diberikan satu sampai dua gelas. Tujuan diberikannya minyak goreng, sebab pada lambung sapi yang sedang kembung, terdapat gas dan busa. Yang paling berbahaya adalah busanya. Tujuan dari pemberian itulah bila minyak sudah masuk ke lambung ternak, dapat mengurangi busa tadi. Usahakan sapinya jangan berbaring setelah diminumkan minyak goreng ini, tapi dibiarkan berjalan-jalan. Yang kedua fungsinya untuk merangsang gerak peristaltik pada lambung hewan ternak. Bila kembung, lambung ternak jadi stagnan, dengan pemberian minyak goreng, gerakan lambung sedikit demi sedikit berfungsi kembali, pencernaan berjalan lagi, gas penyebab kembung bisa dikeluarkan lewat belakang.
• Kudis atau Kurap. Penyakit ini bisa diobati memakai kunyit yang diparut, ditaburi belerang yang telah dihaluskan dan dicampur minyak goreng kemudian dipanaskan. Tunggu hingga minyak tadi dingin lalu oleskan pada bagian tubuh ternak yang berkudis. Pengobatan ini dilakukan secara kontinyu minimal selama dua minggu, sampai kuman yang ada pada bagian tubuh kudisan tersebut benar-benar hilang.
“Sering saya jumpai perlakuan negatif pada ternak yang kudisan dimana petaninya mengoleskan oli bekas pada luka kudisan hewan tersebut. Ini sama sekali tidak disarankan, bahkan cenderung dilarang. Perlakuan tersebut membuat ternak tersiksa karena panas, bisa sampai merontokkan bulu pada bagian yang diolesi.” Cegah Pak Dokter.
• Cacingan. Cacing bisa berasal dari pakan yang tidak bersih, rerumputan atau hijauan yang telah menempel telur atau larva cacing diatasnya. Cacing bisa masuk bila rerumputan yang diberikan tidak dilayukan terlebih dahulu. Tanda ternak yang cacingan yang paling sering ditemui yaitu tubuh hewan ternak menjadi kurus, nafsu makan menurun, tidak lincah. Obat cacing tradisional yang biasa dipakai yaitu, pinang muda. Buah pinang dikupas kulitnya, kemudian biji dalamnya dipotong dua atau bisa juga ditumbuk sampai halus, kemudian dimasukkan ke dalam mulut ternak. Selain untuk mengobati, pinang muda ini juga bisa mencegah datangnya parasit dengan cara memberikan obat cacing ini secara berkala, dua bulan sekali.
Sebagai bonus pertemuan kali ini, disajikan tambahan materi mengenai pemanfaatan sisa tanaman padi yang sudah dipanen sebagai pakan ternak.
Memasuki musim kemarau setiap tahunnya, petugas lapangan mesti mendorong alternatif makanan untuk dikonsumsi hewan ternak. Rerumputan dan hijauan yang berkurang akibat cuaca yang panas bisa mengakibatkan ternak kehilangan berat badan yang ideal. Untungnya di Pulau Rupat sendiri, musim kemarau seperti di bulan Februari dan Maret setiap tahunnya, berarti juga memasuki musim panen padi. Jadi sesuai kondisi lokalita tersebut, solusi pengolahan jerami padi menjadi pakan ternak, layak untuk dicoba.
Pulau Rupat walaupun belum menjadi lumbung pangan bagi Kabupaten Bengkalis, tapi memiliki lahan yang ditanami padi oleh kelompok tani. Setiap selesai memanen tanaman penghasil beras tersebut, sisa panen berupa jerami sangat melimpah. Sayangnya batang padi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa kelompok tani sudah ada yang berinisiatif mengolahnya menjadi pupuk kompos, namun sebagian lagi masih terbuang.
Ada ide untuk mengolah tumpukan jerami ini menjadi pakan ternak yang bergizi. Tahapannya harus melalui pengolahan, sebab bila diberikan begitu saja jerami dalam bentuk segar, sangat kecil manfaatnya untuk perkembangan ternak. Jerami mentah yang dimakan oleh ternak hanya akan mengganjal perut saja, keluar lagi nantinya tanpa diserap oleh tubuh. Tapi bila disajikan dengan diproses terlebih dahulu maka akan menjadi nutrisi yang mendukung pertumbuhan ternak.
Proses pembuatan pakan dengan bahan jerami padi bisa melalui dua cara, yaitu amoniasi dan silase. Amoniasi merupakan suatu cara pengolahan jerami dengan mengunakan gas ammonia. Amoniasi mengurai kandungan pada jerami menjadi lebih sederhana sehingga mudah dicerna bagi ternak. Sedangkan Silase adalah pakan hasil fermentasi yang diberikan kepada ternak, umumnya dibuat dari jerami, rerumputan dan campuran bahan sejenis dengan proses penguraian tertutup atau kedap udara.
Perlu adaptasi oleh ternak di masa peralihan makanan dari rerumputan ke jerami. Caranya dengan mengkandangkanya terlebih dahulu, awalnya menyajikan jerami campur rumput atau hijauan seperti biasa. Lama kelamaan persentase rumput dikurangi, hingga tersisa jerami olahan saja untuk dikonsumsi oleh ternak.
Dengan memanfaatkan jerami padi sebagai pakan ternak, berarti ketersediaan makanan akan melimpah. Hal itu membuka peluang petani untuk menambah jumlah ternaknya. Walaupun musim silih berganti, hewan ternak bisa dipelihara tanpa takut kekurangan makanan.
“Ini solusi sederhana tapi bermanfaat besar, bisa kita terapkan di lapangan.” Pungkas Pak Dokter Hewan.



Posting Komentar