Berburu dan Berbagi

Ini hutan kami
Pohon-pohon tumbuh rimbun bersusun rapi
Sungai memeluk erat bagai dekapan ibu kami
Dirajut bukit dan gunung-gunung tinggi
Ini sungai kami
Syair dan lagu mengalun setiap hari
Iringi sampan menuju tepi
Hidup berburu dan berbagi
Membesarkan anak cucu kami

Di sebuah pedalaman hutan, sungai mengalir jernih dari hulu, mengitari beberapa perkampungan sebelum akhirnya sampai ke hilir. Onggokan batu-batu besar berwarna hitam tampak kokoh di beberapa bagian tepi sungai. Sinar matahari mampu menembus sampai ke dasar, memberi hangat kepada ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari.  Penduduk setempat menggantungkan hidupnya pada aliran sungai, mencari ikan, udang, kepiting untuk kebutuhan sehari-hari.

Sudah menjadi tradisi di setiap akhir tahun, penduduk kampung akan berkumpul untuk mengadakan acara berburu ikan di sungai. Selain untuk memenuhi kebutuhan dapur, mereka juga menggunakan tradisi ini untuk membangun keakraban, kebersamaan, dan mencairkan suasana antar kampung. Hingga jika ada persoalan, walau adu fisik tidak terhindarkan, akhirnya penduduk akan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Sungai telah menjadi seperti ibu bagi mereka, menjaga mereka tetap rukun dan memberi rasa aman antar kampung.

Malam sebelum berburu, rembulan yang muncul separuh bersembunyi malu di balik awan yang berarak. Di sebuah rumah tinggi, seorang anak kecil sedang duduk di pangkuan ibunya. Sambil sesekali matanya memperhatikan ayah dan beberapa orang lain sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di bawah tangga rumah mereka.

“Apa yang sedang ayah lakukan bu?” Tanya bocah itu.

“Mempersiapkan sesuatu untuk acara berburu besok nak. Tiap tahun kampung kita selalu mengadakan acara berburu ikan.” Jawab sang ibu. 

“Mengapa harus akhir tahun bu?”

“Orang-orang dulu beranggapan bahwa di akhir tahun, dewa sungai selesai bertapa di khayangan, lalu turun ke bumi untuk memanggil ikan-ikan di sungai agar muncul ke permukaan.”

“Benarkah itu bu?”

 “Itu adalah kepercayaan orang-orang dulu, di akhir tahun ikan-ikan di sungai kita mencapai tahap dewasa. Jumlahnya banyak dan ukurannya sudah besar, jadi sudah tepat jika sejak dulu hingga sekarang kita menangkap ikan di akhir tahun.”

 “Apakah semua ikan akan kita tangkap?”

“Tidak nak, kita tidak mengambil semua, cukup untuk kebutuhan kita. Ikan-ikan betina juga telah berenang menuju ke hulu untuk bertelur. Mereka telah siap menjadi induk, hingga kehidupan sungai bisa terus berlanjut.” Jawab ibunya.

Sang ayah telah selesai dengan pekerjaannya, membuat ramuan dari getah akar tanaman khusus yang diambil dari dalam hutan. Zat dari ramuan ini akan membuat syaraf-sayaraf ikan menjadi lemah dan menjadi tak berdaya beberapa lama. Setelah ramuannya selesai, sang ayah memasukkannya ke dalam buluh bambu, lalu mereka menuju ke sungai.

Ditepi sungai telah menunggu beberapa buah sampan yang membawa mereka ke bagian tengah. Setelah menelusuri beberapa bagian sungai, dipilihlah satu tempat yang tepat. Kemudian sang ayah mengeluarkan buluh bambu tempat penyimpanan ramuan, mengocoknya dulu sebelum melarutkan getah pohon agar bercampur dengan air sungai.

“Apa yang akan terjadi setelah ramuan ini larut?” tanya seorang pemuda.

“Ramuan ini akan membuat ikan-ikan menjadi pusing dan tidak sadarkan diri, lalu besok pagi mereka akan muncul ke permukaan air.”

“Apakah semua ikan akan terkena? Termasuk yang kecil?”

“Ya, bukan hanya ikan dewasa, semua ikan akan terkena dampaknya. Namun ikan-ikan kecil yang pingsan akan diambil kemudian dikembalikan ke sungai ketika acara berburu telah selesai. Ikan yang tidak berhasil di tangkap-pun akan sehat kembali beberapa jam kemudian.” Jawab ayah.

“Mengapa kita tidak pernah melarutkan ramuan ini di bagian hulu?” tanya pemuda lainnya.

“Leluhur kita mengajarkan kesederhanaan, melarang tempat itu diganggu. Walau sebenarnya aliran air dari hulu  bisa membantu agar hasil tangkapan lebih banyak. Mungkin mereka sudah tahu bahwa induk ikan berada di hulu, jika mengganggu tempat tersebut sama artinya memutus rantai kehidupan sungai.” Jelas sang ayah.

Seorang bapak yang mendengar percakapan mereka berujar,

“Sudah puluhan tahun tradisi ini berjalan, namun ikan-ikan di sungai selalu banyak seperti tak pernah berkurang. Sungai ini selalu melimpah dengan hasil tangkapan, walau banyak warga kampung lain biasa berdatangan untuk memancing.”

Ritual telah selesai, tinggal menunggu ramuannya menyebar seiring aliran sungai. Mereka kemudian mendayung sampan menuju ke tepi, lalu pulang ke rumah untuk mempersiapkan alat tangkap. Satu lagi yang menjadi aturan tidak tertulis bahwa di hari berburu, tidak boleh menggunakan jaring. Menangkap ikan hanya diizinkan menggunakan tombak atau mata panah. Keahlian dan pengalaman sangat dibutuhkan untuk mendapat hasil yang terbaik. Para leluhur mengajarkan agar mereka menghindari keserakahan, menanamkan nilai penting untuk saling berbagi dan menjaga keseimbangan alam.

***

Pagi hari yang cerah, mentari akan segera terbit di ufuk timur. Kokok ayam jantan membangunkan penduduk kampung dari tidurnya yang lelap. Beberapa orang telah bersiap sedari tadi, menyatukan beberapa batang tombak bermata tiga serupa trisula kemudian memuatnya bersama tempayan rotan untuk menaruh ikan tangkapan. Bekal berupa panganan yang dibuat hanya pada momen-momen seperti ini dibungkus menggunakan daun pisang untuk disantap bersama saat perayaan berlangsung. Perayaan yang berumur hampir sama dengan usia kampung mereka.

Tidak berapa lama puluhan penduduk lain berdatangan, tua-muda, besar-kecil, perempuan, lelaki maupun anak-anak kecil. Seisi kampung tumpah ruah menuju sungai. Jalan menjadi riuh oleh percakapan dan canda tawa. Keakraban yang sebenarnya  sudah terjalin beberapa hari sebelumnya ketika mempersiapkan ramuan, peralatan dan bekal untuk acara ini. Beberapa orang saling bertukar tombak atau panah untuk menguji kemampuan alat buatan mereka. Begitu pula nantinya dengan hasil tangkapan, mereka akan saling tukar dan dibagi-bagi kepada warga sekitar.

Ada pemandangan lain di salah satu tepi sungai, sekelompok pria membawa alat musik tabuh sedang berkumpul. Beberapa gendang dengan ukuran besar, sedang dan kecil tampak di depan dada mereka, menggelantung dengan ikatan tali di leher. Mereka akan membunyikan alat itu sebagai penanda awal untuk mengantar seluruh sampan turun ke sungai. Begitupun ketika perburuan dianggap selesai, mereka akan menabuh lagi dengan irama lain sebagai penutup.

Fajar mulai menyingsing, seiring bunyi genderang yang ditabuh menjadi begitu nyaring, tradisi yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun dimulai. Sampan-sampan tak bermesin sedikit demi sedikit di dorong menuju ke air. Tidak hanya lelaki yang ada di atasnya, perempuan juga ikut ambil bagian dalam tradisi berburu ini. Sedangkan anak-anak kecil menangkap ikan yang terlepas atau hanyut ke tepi sungai. Kebahagiaan begitu nampak pada wajah-wajah mereka.

Ikan-ikan yang sudah nampak dipermukaan langsung berloncatan dengan sisa-sisa tenaga mereka begitu melihat sampan mendekat. Namun apa daya, tombak dan anak panah sudah meluncur dari tangan-tangan ahlinya.

Teps! teps! teps!

Bunyi gemericik begitu tombak sampai ke permukaan air. Satu per satu ikan sebesar telapak tangan orang dewasa menggelepar di ujung mata besi. Selain keahlian dan pengalaman, dibutuhkan pula kekompakan dalam berburu. Ketika seseorang telah mengangkat tombak, yang berarti ada buruan yang diincar, maka yang lain tidak boleh menggangu. Berebutan buruan hanya akan membuat ikan-ikan kabur. Yang lain menunggu sambil menajamkan pandangan mengintai ikan buruan lainnya.

Jarak antar sampan juga harus di jaga agar tidak bertabrakan. Seseorang yang terbiasa menggunakan dayung dan sampan diserahi tugas untuk hal ini. Kekompakan pendayung sampan dan penombak ikan juga merupakan kunci keberhasilah berburu. Ketenangan dan insting yang tajam merupakan bekal alamiah yang mereka miliki, sebab sejak kecil orang tua selalu membawa anaknya ketika berburu. Anak-anak lelaki maupun perempuan mereka latih berenang, meramu obat, berperahu, memegang tombak dan berpanah.

Taps!

Seekor ikan sungai sebesar lengan berhasil dipanah. Kali ini oleh seeorang perempuan berambut panjang sepinggang. Busur dia letakkan lalu menarik tali yang tersambung ke anak panah yang telah tertancap di tubuh ikan. Pelan-pelan hingga ikan tersebut tertarik ke dekat sampan. Dan hup! Dengan sekali sentakan ikan tersebut telah berada di atas lambung kapal. Benar-benar keahlian berburu yang luar biasa.

“Sepertinya ikan-ikan tahun ini ukurannya jauh lebih besar dari tahun lalu.” Ucap si perempuan sambil membuka mata panah dari tubuh ikan.

“Jumlahnya juga cukup banyak.” Kata si pendayung sambil mengayuh sampannya ke tempat lain.

“Alam selalu memberi lebih banyak dari yang kita pinta.” Tutup si perempuan.

Takkala sang surya telah tepat berada di atas kepala menepilah beberapa sampan ke pinggir sungai, dimana telah menunggu beberapa orang untuk menjemputnya.  Silih bergantian sampan menepi, para pemburu beristirahat sambil menikmati kue hidangan di tepi sungai. Beberapa kali terdengar suara teriakan ketika seseorang berhasil mendapat buruan, mengacungkan tombak yang ujungnya menggelepar seekor mangsa. Penduduk yang berada di tepi serentak menyorakinya sambil tertawa.

“Satu lagi buat makan malam!” teriak seorang pria dengan kulit yang menghitam terbakar matahari.

“Jangan buat kau semua, bagilah dengan kami.” Sahut pria lain di tepi sungai.

“Nanti aku giring beberapa ekor ke arah situ.” Jawabnya lagi.

“Tak usahlah, bagi setelah kau bakar saja!”

Hahaha.

Suara tawa terdengar hampir serempak, lalu semua kembali sibuk dengan buruan masing-masing.

Berbahagialah mereka dengan segala kemeriahan pesta hari itu. Sampai sayup-sayup gelap turun menjemput petang, tidak terasa tempayan rotan hampir penuh terisi ikan. Dengan perasaan senang warga kampung kembali pulang, menikmati hasil tangkapan mereka dan membagi-bagikan kepada tetangga dan orang-orang terdekatnya.

***

Ratusan kilometer arah barat, sayup-sayup terdengar suara alat berat sedang bekerja memperluas area perkebunan. Mesin-mesin raksasa membabat pepohonan, memecah batu dan tebing curam, mengeruk bukit hingga rata dengan tanah. Seperti tak ada yang bisa menghentikan mereka, sebentar saja beberapa wilayah hutan dan pegunungan telah berhasil disulap menjadi  kebun sawit.

Ini ranah kami
Duka mengendap-ngendap datang menghampiri
Nadi-nadi sungai sulit terkayuh lagi
Tinggal bergenang sebatas mata kaki
Para penombak ikan tak pernah ingkar janji
Mendekap mimpi berkawan sunyi
Ceritakan kisah hapus sepi di hati

Posting Komentar