Buah Lokal Untuk Pariwisata Rupat

Senyum terkembang saat lelaki berkulit sawo matang itu melihat catatan penjualan cabai pada musim panen bulan ini. Deretan angka di buku panjang bersampul batik itu menunjukan peningkatan produksi yang cukup signifikan. Dari 1 Hektar lahan yang ditanaminya cabai, panen terakhir menghasilkan 130 kg. Naik 30 Kg dari hasil panen sebelumnya yang tertera di angka 100 kg. Petani di Desa Makeruh Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau itu, setiap kali usai panen menuliskan analisis usahanya di buku catatan yang rapi.

Bapak itu bernama lengkap Wiji Astrianto, Tempat tanggal lahir di Banyuwangi 12 Oktober 1966. Dalam perantauannya di Pulau Sumatera, lelaki yang biasa dipanggil Pak Yanto menjadi petani cabai, padi dan semangka. Jauh dari keramaian ibu kota Kecamatan Rupat, kebun semangkanya terletak di Dusun Selomang-Desa Makeruh, 78 km dari pusat kota.


“Dari dulu, walau telah sukses dengan tanaman sawit, saya tidak pernah ketinggalan menanam cabai dan semangka.” Katanya sambil mencabuti rumput kecil di sekitar tanamannya.

Semangka adalah satu buah dengan kandungan air yang melimpah. Bentuknya ada yang bulat, lonjong dengan berbagai macam ukuran. Seiring perkembangan teknologi pertanian, bentuk semangka sudah bisa dimodifikasi, keluar dari bentuk alaminya. Kulit buahnya tebal dengan motif jalur yang unik berwarna kehijauan. Buah semangka banyak digemari sebab daging buahnya lembut dengan rasa manis yang memanjakan lidah.

Kepiawaian bercocok tanam semangka Pak Yanto dimulai di Benggala, Pujut Kabupaten Rokan Hilir. Sambil membuka lahan untuk perkebunan tanaman sawit, dia juga memutuskan menanam semangka. Keberhasilannya tidak datang begitu saja, tapi memerlukan kerja keras dan pengorbanan. Bukan sekali duakali mengalami gagal panen, tapi seringkali kegagalan itu datang, padahal semua telah dikerjakan dengan baik. Serangan hama, penyakit, banjir dan kekeringan adalah hal yang biasa dijumpainya.

Berawal dari kegagalan, dia belajar bertanam semangka dari petani yang ahli dan menguji perlakuan pada tanaman secara otodidak. Selama satu musim dia fokus mengelola kebun semangka, semua pekerjaan dilakoni sendiri. Mulai dari mengolah lahan dengan cangkul, menanam, menyemprot, memupuk dan menyiangi rerumputan yang mengganggu. Sebagian petani yang berada di sekitar lahan yang ditempatinya menanam semangka tidak jarang meragukan tekadnya. Tapi dia maju terus penuh keyakinan bahwa keberhasilan itu akan datang jika usaha sudah maksimal dan doa telah dipanjatkan.

Semangka tumbuh subur karena dia merawatnya dengan telaten. Di kemudian hari hasil panen melimpah, hingga tetangga berdatangan untuk menyaksikan sendiri.

“Buah-buah yang berhasil dipanen sebagian dijual, karena banyak pedagang yang datang langsung ke kebun. Hasilnya laris manis, tapi tidak saya jual semua. Ada juga yang dibagikan ke tetangga dan para petani sekitar lingkungan desa, agar mereka tertarik untuk menanam semangka.” Kenangnya.

Bapak yang memiliki tiga orang anak ini menjelaskan bahwa budidaya semangka termasuk gampang-gampang susah. Hal utama yang disarankannya adalah ketelitian memilih benih yang akan ditanam. Disitulah sebagian orang menganggap remeh sehingga menimbulkan kegagalan dikemudian hari. Tapi menurutnya tidak perlu takut untuk mencoba dan memulai menanam buah merah ranum ini.

“Di satu sisi, semangka itu termasuk tanaman yang gampang dipelihara. Tidak seperti melon dan timun suri yang perlu perkawinan manual dan membutuhkan pupuk khusus. Hanya penyiraman semangka memerlukan perhatian, sebab semangka tak tahan hujan. Jika air datang berlebih, maka daunnya akan menguning, bunga rontok kemudian batang semangka membusuk.” Ungkapnya

Hari-hari Pak Yanto bersama tanaman semangka yang sedang naik daun harus terhenti sementara waktu. Sudah garisan tangannya hingga suatu hari Bapak bersuku Jawa ini merantau ke sebuah pulau di seberang Kotamadya Dumai.

“Saya meninggalkan Rokan Hilir saat berada di titik sukses. Tidak hanya semangka dan cabai yang berhasil mendatangkan uang. Hasil sawit bisa mencapai 10 ton/bulan, waktu itu saya memiliki lahan seluas 10 Ha.” Katanya sambil mengenang peristiwa yang telah lampau.

Sekarang Pak Yanto telah berada di Pulau Rupat, alamat rumahnya di Jalan Tuk Bahar No. 14 Dusun Selomang. Hasil penjualan rumah di kampung lama digunakan untuk membeli lahan di Desa Makeruh Pada Tahun 2010. Dua tahun setelah membeli lahan tersebut, masuk irigasi pertanian untuk membuat sawah. Seperti yang sering diungkapkannya, tanaman semangka tidak pernah luput ditanamnya, dimanapun dia berada.

“Pertama datang di pondok ini, saya langsung uji coba tanam semangka. Dari 1000 batang yang tertanam, bisa menghasilkan 6 ton buah semangka, waktu itu dijual murah sebagai penglaris. Banyak yang datang untuk membeli, dari Desa Pangkalan Nyirih dan Desa Parit Kebumen. Hasilnya habis jual di kebun saja.” Ungkapnya dengan penuh semangat.

Keinginannya untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam mencapai kesejahteraan, Pak Yanto membentuk kelompok tani (Poktan). Hal tersebut mendapat sambutan yang positif dari penyuluh Pertanian Desa Makeruh. Mulailah dilakukan pertemuan-pertemuan bersama penduduk desa yang berminat pada dunia pertanian, mendiskusikan bentuk, tujuan dan hal-hal yang ingin dicapai. Pada Tanggal 16 Maret 2016, bertempat di Dusun Selomang, Desa Makeruh, dibentuklah kelompok tani yang diberi nama Poktan ‘Kerja Bersama’.

Sehari berselang, bertempat di kediaman Pak Yanto, diadakan pertemuan lagi untuk memilih pengurus kelompok. Dalam rapat yang digelar secara sederhana itu dihadiri oleh seluruh anggota yang berjumlah 20 orang. Adapun susunan pengurusan kelompok tani Kerja Bersama yaitu Wiji Astrianto sebagai ketua, Dani sebagai sekretaris dan Ketu sebagai Bendahara. Kelompok tersebut masih tergolong baru, semoga bisa berkembang di masa depan.

Di sebuah tempat yang jauh dari hingar bingar perkotaan, pasir putih menghampar begitu luas. Di bawah rimbunan pohon kelapa yang rindang, beberapa pengunjung pantai sedang bermain. Hari terik siang itu, keringat mengucur dari dahi para pengunjung pantai Makeruh. Sungguh yang terbaik di saat seperti itu adalah menikmati buah semangka segar. Daging buahnya yang merah menggoda mata, menghilangkan dahaga dengan rasa manis yang sempurna. Khasiat lain sebagai suplay vitamin C dan mineral yang menyehatkan tubuh, buah tropis itu banyak diburu para konsumen.

Seorang petani yang dahulu merugi akibat serangan hama dan paceklik, kini dengan buah semangka bertekad merubah nasib, menangkap peluang yang ada. Pengalaman dan kenyataan hidup telah menempah dirinya, dari petani awal menjadi petani tangguh. Sebagian orang ada yang mencibir, tapi tidak menggoyah langkahnya. Sementara itu nun jauh di tanah seberang, para penggagas konsep Pulau Rupat sebagai pusat agrowisata mungkin sedang rapat. Seandainya saja mereka mengetahui, di pelosok Makeruh ada semangat dan tekad kuat para petani semangka. Calon pemasok buah lokal untuk kebutuhan pariwisata.

Posting Komentar