Barang siapa yang tidak berkawan dengan kelampauan maka dia akan menuju kehancuran…
Penanggalan hari Minggu 5 Juli 2015, sepertiga Ramadhan masih tersisa. Daratan terkelilingi air laut di dekat Semenanjung Malaka tersapu angin kencang. Kabut lembut dan mentari susut saja sudah susah bisa mengepung pulau kecil itu. Aliran hawa panas meranggas menghardik pohon-pohon tua yang sebentar lagi tumbang mengikut kawannya yang terjungkal bulldozer. Tak ada hukuman perih yang mendera pencongkel pasak bumi, padahal bangkai kayu nir samar teronggok di atas bekas hutan hujan. Jadi sangat tak keliru jika burung-burung laut menorehkan warna coklat buram di sekujur kanvas pulau gersang. Luka tanah pada tanah yang terluka. Luka karena pencemaran, penebangan, diperebutkan, luka akibat menyimpan kepedihan ulah manusia yang mendiaminya.
Begitu juga kisah pepohonan di depan posko PPL Rupat, merata tanah berganti ruko pongah. Angin cukup kencang menghembus daun pintu yang rapuh, kuseruput kopi hitam yang hampir dingin. Sebuah surat kabar kusam memberi kabar bahwa Kepala Dinas Pertanian Peternakan Kabupaten Bengkalis, bersama beberapa staff mengikuti kegiatan sinkronisasi data statistik dalam pelaksanaan program pertanian dan peternakan. Kegiatan tersebut disebutkan sebagai salah satu upaya menyamakan data berbagai pihak terkait hasil produksi padi dan tanaman pangan lainnya.
“Alhamdulillah, angka hasil produksi padi di daerah kita ini pada tahun 2014 lalu terjadi peningkatan 14,48 persen. Tentunya ini sangat membanggakan, kendati begitu kita tidak puas sampai di sini, dan akan terus berupaya meningkatkan hasil produksi padi kita,” Begitu kutipan statement Pak Kadis di media cetak tersebut.
Masih terkait berita dalam koran kusam depan pintu tersebut menyebutkan bahwa berdasarkan data produksi padi Kabupaten Bengkalis tahun 2013-2014, sesuai angka sementara (Asem) 2014, terjadi peningkatan cukup signifikan. Produksi padi kabupaten Bengkalis meningkat dari 23.470 ton menjadi 26.869 ton, angka statistik dan persentase menanjak pada kisaran 14.48 persen. Sedangkan asumsi hasil produksi padi tahun 2015 ini ditargetkan akan kembali terjadi peningkatan. Tanda-tanda ke arah itu sudah bisa dilihat dari hasil sementara produksi padi di bulan Oktober 2014-Maret 2015, yang sudah melebihi target peningkatan produksi sekitar 6 persen.
Parade statistik rupanya masih mendominasi media massa…
Beberapa minggu kemudian, tepatnya di penanggalan 25 Juli 2015, dilangsungkan festival pantai yang dipusatkan kawasan wisata Pantai Pesona, Desa Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara. Secara kasat mata terpantau keramaian manusia dari berbagai penjuru memadati pantai cantik itu untuk menyaksikan berbagai perlombaan dan atraksi seni budaya.
Ramainya wisatawan yang hadir pada pembukaan Festival Pantai Rupat 2015 disebabkan berbagai faktor, di antaranya masih suasana liburan sekolah, membaiknya infrastruktur jalan poros Rupat dan ketersediaan dua roro penyeberangan Dumai-Rupat yang memadai.
Festival Pantai Rupat dibuka secara resmi oleh Bupati Bengkalis yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Umi Kalsum. Festival pantai yang diselenggarakan selama dua hari tersebut menampilkan berbagai perlombaan bernuansa bahari, diantaranya lomba parade pancung, lomba pancung, lomba mencari kepah serta windsurfing.
Sementara itu, api membakar lahan-lahan gambut yang berasap hingga ke negeri tetangga…
Jejak kebakaran lahan setahun yang lalu belum juga terhapus dari ingatan, di tahun 2015 ini Riau kembali dilanda hal serupa. Di tengah serbuan asap yang tidak meninggalkan tempat persembunyian, sebuah surat tergeletak di atas meja kantor. Isinya mengenai optimalisasi pengelolaan pupuk bersubsidi dalam rangka mendukung suksesnya Upaya Khusus (Upsus) peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (Pajale). Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 130/Permentan/SR.130/11/2014 tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian tahun anggaran 2015 bahwa penyalur di lini IV yang ditunjuk wajib menjual pupuk bersubsidi sesuai HET. HET adalah harga pupuk bersubsidi yang dibeli petani atau kelompok tani di penyalur lini IV yang ditetapkan Menteri Pertanian. Pelanggaran terhadap Peraturan Menteri Perdagangan No. 15/M-DAG/PER/4/2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian dan peraturan menteri pertanian No. 130/Permentan/SR.130/11/2014 tentang kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian tahun Anggaran 2015 merupakan tindak pidana ekonomi.
Akibat kemarau panjang, tanaman padi di beberapa desa Pulau Rupat terancam puso…
Sekalipun pemerintah pusat membentangkan tangan membantu penanganan kebakaran lahan Riau dan sekitarnya, tetap saja tak mengubah kegentingan yang segera menjadi kesedihan berwajah muram. Pada saat lahan luas terbakar, bukan hanya pepohonan dan kayu di atas tanah saja, namun juga bagian bawah tanah berupa gambut yang mudah merembetkan api. Kenyataannya seperti itu, sehingga kebakaran tahun ini berlangsung selama berbulan-bulan lamanya. Bencana asap tahunan sepertinya tidak memiliki solusi konkrit walau sudah menyedot dana milyaran rupiah untuk menurunkan hujan ataupun mengangkut air ke lahan yang telah berubah menjadi abu dan arang. Ada indikasi pembakaran lahan dilakukan secara sengaja untuk menurunkan kadar keasaman tanah gambut hingga bibit tanaman perkebunan bisa tumbuh dengan bagus. Berita-berita mengenai menurunnya kualitas udara berkelindan dengan deru pemberitaan ancaman kesehatan warga, sekolah-sekolah yang diliburkan, hingga penutupan bandar udara penerbangan. Di Pulau Rupat sendiri, helikopter hilir mudik melakukan pengeboman dengan menggunakan air asin dari laut, hasilnya kurang memuaskan hingga turun perintah untuk segera menanggulangi kebakaran dengan menggali parit atau kanal pada lahan-lahan gambut.
Gali lubang tutup lubang, habis asap terbitlah arang…
Rabu, 11 November 2015. Pemerintah kembali melakukan impor beras dengan berbagai alasan mengemuka.
“Impor beras dilakukan untuk memenuhi persediaan stok beras di beberapa daerah. Akibat El Nino, panen pun mundur karena kekeringan. Menurut data dari Bulog, sejumlah daerah telah menerima beras luar negeri untuk persediaan.” Maklumat Wapres R.I seperti yang dikutip pada sebuah koran nasional.
Masih terasa hangat optimisme pemerintah Jokomi-JK untuk swasembada pangan yang didengung pada awal masa berkuasa. Beberapa bantahan dari berbagai pejabat soal impor beras, seolah ingin menutupi ketaksanggupan menjaga persediaan makanan pokok dalam negeri. Akhirnya pemerintah benar-benar memasukkan beras impor ke Indonesia. Beras asal Vietnam itu bahkan sudah mulai masuk ke Jakarta dan daerah-daerah lainnya.
“Kekeringan pada Agustus hingga November 2015 memicu mundurnya masa panen gabah sehingga persediaan beras untuk tahun depan berkurang. Yang paling penting pemerintah menyiapkan cadangan beras nasional yang cukup. Nah, termasuk dari impor tidak apa-apa,” Jelas Pak Wapres.
Banyak sudah dana membangun sarana dan prasarana, terbesit asa agar pemerintah fokus pada penciptaan kondisi ekonomi nasional yang memihak ke petani. Realitanya pasar bebas menjadi pilihan, komoditi pertanian masuk dengan mulus seiring makin santernya isu MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Sebelumnya, impor beras juga dilakukan bagi daerah yang bukan merupakan daerah penghasil beras dan stok pangannya menipis. Pada Rabu (4/11/2015), sebanyak 4.800 ton beras asal Vietnam tiba di Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Minggu (8/11/2015), Bulog Merauke mendatangkan beras impor juga dari Vietnam sebanyak 3.000 ton.
“Demi rakyat, bukan demi hanya satu orang untuk menjaga citra, tidak. Demi menjaga jangan harga beras naik,” Tutup Wakil Presiden.
Swasembada padi, masih jauh panggang dari api…
Bulan ke dua belas di tahun 2015, Lima hari setelah perayaan Hari Nusantara di Pantai Tanjung Punak Kec. Rupat. Detik-detik pilkada langsung diselenggarakan secara serentak di seluruh desa se Rupat dan Rupat Utara. Pelaksanaan Pilkada langsung juga dihelat di sembilan kabupaten kota se provinsi Riau. Kesembilan daerah itu adalah Kabupaten Pelalawan, Siak, Kuantan Sengingi, Indragiri hulu, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Bengkalis, Meranti dan Kota Dumai. Di Rupat sendiri, secara umum pesta demokrasi itu berjalan tertib dan lancar. Para pemilih sudah terlihat berdatangan ke tempat pemungutan suara sejak pagi hari, terus ramai hingga siang menjelang. Hasil perhitungan cepat, calon bupati Bengkalis nomor urut satu unggul dengan selisih suara mencapai 50 persen. Jika tidak ada halangan yang berarti, maka kabupaten terkaya di Republik Indonesia ini akan dipimpin oleh bupati baru.
Keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar, beberapa petani dengan tekun menekurkan kepala diantara rimbun tanaman padi. Hujan dimalam hari membuat warga desa tidak bisa menoreh getah dari lahan masing-masing. Mata pencaharian tersendat, budaya tradisional menanam padi itu juga makin lama makin tergerus, ibarat aspal jalanan yang makin tipis tergerinda oleh roda tak bersahabat.
Seorang penyuluh pertanian terduduk di pondok kayu tepi ladang padi. Buku catatan yang dibawanya lembab berembun, tangan kanan gigil memegang pena. Sedari tadi dia telah berada di situ, bergumul bersama petani menyelesaikan pekerjaan mereka. Si penyuluh sedang belajar mengenai kehidupan orang-orang yang telah terbiasa bertani, bercengkrama dengan tanah, mencintai bumi. Ada kegetiran dan kecemasan menghadapi hari depan, namun bersua dengan orang-orang yang mencintai sesuatu, bisa menularkan semangat hidup. Semoga bisa berjumpa lagi dengan mereka di awal tahun baru.
Helai demi helai daun berguguran pada hari yang kian menuaKeriput tanah ladang kau tugal dengan sepi
Tangguh sudah terbuang, terbang bersama kepak sayap burung menghambur pulang
Wajah pucat disapu angin gersang, kau coba tegar meski terlilit utang
Laron kunang-kunang jadi teman, atas retakan tanah-tanah ladang
Kau peluk redup nasib, berharap di langit malam terselip rona sang rembulan



Posting Komentar