“Tidak ada toleransi di tempat ini, jadi jangan pernah membantah!” bentak kepala sipir saat para tahanan baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau.
Tiada ampun buat pembangkangan. Tentu saja ketika kau berani melanggar, terali besi mungkin akan menjadi akhir hidupmu. Di sebuah penjara pulau terpencil, meringkuk pak Din’ yang tertangkap tangan melubangi kapal tangker minyak dengan jangkar kapalnya. Menurutnya tumpahan minyak itulah yang membuat ikan-ikan di perairan mati hingga hasil tangkapannya dari hari ke hari semakin berkurang. Karena menolak meminta maaf dan enggan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, tujuh tahun sudah dia terkurung bersama tahanan lainnya.
Penjara ini berukuran kecil, terdiri dari beberapa sel berdempetan yang dipisahkan terali-terali besi tersusun vertikal. Tembok setinggi lima meter kokoh membentengi sekeliling penjara, di atasnya tertancap duri-duri besi saling melintang. Cadas. Jangankan manusia, tikuspun akan kesulitan jika coba melarikan diri. Menara mercusuar juga terdapat di salah satu sisi penjara, selain memberi tanda buat kapal yang mendekat, juga membantu penjaga agar mampu mengawasi sampai ke bibir pantai. Kapal hanya datang sekali sebulan, mengantar bahan kebutuhan dapur penjara, mengganti petugas jaga, juga sesekali membawa keluarga tahanan yang ingin berkunjung.
***
Langit mendung di bulan Juni, pak din’ terbangun dari pembaringan ketika seorang petugas jaga memanggil namanya.
“Badaruddin, seseorang sedang menunggu di ruang besuk ingin berjumpa denganmu!” kata petugas berbadan tegap tanpa ekspresi.
“Iya pak.” jawabnya singkat lalu melangkah keluar dari selnya.
Konon nama Badaruddin merupakan pemberian seorang tentara yang berasal dari Jawa, kawan ayahnya yang bertugas di Sumatera. Badar sendiri adalah cerita heroik tentang sebuah perang ratusan umat muslim melawan musuh yang berjumlah ribuan. Mungkin kawan ayah ingin agar dia nantinya menjadi pemberani seperti orang-orang dalam cerita tersebut.
“Bagaimana kesehatannya?” seorang gadis dengan T-shirt putih berlengan panjang membuka percakapan.
“Baik, cuma sedikit batuk. Mungkin pengaruh angin yang bertiup kencang akhir-akhir ini.” jawabnya sambil memperbaiki letak kursi kayu yang diduduki. Mereka kini tepat berhadapan. Mata bening si gadis terus bergerak seperti menyelidik. Sejurus kemudian kedua bola mata itu terhenti di kepala pak Din’ yang ditumbuhi janggut tipis dan rambut yang telah beruban.
“Ayah semakin kurus…“
Pak Din’ tidak menjawab, hanya tatapan kosong ke arah putri semata wayangnya.
“Bagaimana kehidupan di kota, apakah sama yang dibicarakan orang selama ini?“ pak Din’ coba mengalihkan pembicaraan.
Dia sengaja tidak memperpanjang percakapan tentang kondisinya. Cukuplah dirasakan, usah lagi jadi bahan cerita untuk pertemuan singkat seperti ini.
“Sepertinya tidak semua benar, yah.” Si gadis menegakkan badannya, mengusir gugup karena setelah sekian lama baru pertama kali ini mereka bertemu lagi.
“Sudah puluhan tahun meninggalkan kampung, pasti banyak pengalaman yang kau peroleh.”
“Hidup di rantau selalu ada suka duka, seperti menyusuri lorong panjang tanpa ujung.”
“Hiruk pikuk manusia dan kemacetannya?
“Tentu saja.”
Sepertinya suasana mulai cair, dengan mimik serius si gadis lanjut bercerita.
“Kota memang menyediakan segala hal untuk bersenang senang. Gemerlap kehidupan yang seolah tiada matinya. Seperti tanpa kendali, hanya di kotalah aktifitas 24 jam tak pernah berhenti. Roda dan mesin pabrik yang terus berputar melayani jutaan manusia yang terus berdatangan. Namun di balik kemegahan topengnya terselip gigi-gigi tajam yang siap memangsa siapa saja.”
“Maksudmu?” Tanya pak Din’ yang merasa tertarik dengan cerita si gadis.
“Kota adalah rimba raya, lebih ganas dari hutan belantara di kampung kita. Lebih dalam dan gelap dari lautan depan gubuk kita. Yang kuatlah yang menang, mereka yang memiliki modal besar dan kekayaan selangit. Sedangkan yang lemah menjadi tak berdaya, tersungkur di bawah kolong-kolong jembatan atau emperan toko dan gedung-gedung mewah yang menjulang tinggi.”
“Mendengar ceritamu, sepertinya hukum rimba yang berlaku di kota besar. Yang besar memangsa yang kecil?" Tanya pak Din’ lagi.
“Kurang lebih seperti itu, Ayah. Belum pernah aku melihat ada kaum yang melakukan itu kepada orangnya sendiri dengan cara tidak manusiawi. Hanya di kota, hanya manusia kota yang sanggup melakukannya.” Roman muka si gadis seperti bercahaya memancarkan kecerdasan.
Tidak disangka setelah sekian lama tidak berjumpa, ayah dan anak yang berpisah sekian tahun masih saja haus akan ilmu pengetahuan. Pembicaraan berat seperti ini sudah sering dan santai mereka lakukan.
“Sepertinya kau belajar banyak tentang kehidupan.”
“Tidak juga, yah.” Jawab si gadis diplomatis.
“Aku hanya beruntung memiliki seorang ayah yang mengajarkan untuk selalu mencari kedalaman makna hidup.” Katanya sambil tersenyum manis.
Pak Din’ terdiam sejenak.
”Itu sebabnya ayah tidak pernah khawatir melepas kepergianmu dulu, kau selalu tahu membaca situasi dan keadaan di sekitar.”
Gadis itu mengangguk.
“Penjelajahan dan ketertarikanmu akan hal-hal baru sudah terlihat semenjak kau kecil.”
“Ayah masih ingat cerita tentang bajak laut si penakluk lautan?“ tanya si gadis tiba-tiba. Wajahnya berseri penuh semangat.
Sejenak pak din’ berfikir.
“Perompak paling dicari pemerintah dan dibenci saudagar kaya itu?” dia berujar.
“Iya, namun begitu dicintai karena membagikan harta rampasan mereka kepada penduduk pesisir yang miskin.” Si gadis mengingatkan.
“Tentu saja ayah masih ingat, itu kisah karangan ayah sebagai pengantar tidurmu. Si kecil yang susah tidur malam, namun entah mengapa setiap mendengar cerita itu kau pasti tertidur pulas.”
Si gadis terdiam. Beruntung sekali dulu mereka bisa mendapatkan banyak buku karena ayahnya senang membaca. Buku pelajaran, dongeng, buku cerita, dan sebagainya. Ayahnya seorang yang pandai, namun biasa bertingkah di luar logika umum. Dia masih ingat ketika ayahnya mendapat teguran akibat pendapatnya bahwa untuk mencukupi pangan desa, mereka perlu membuka lahan pertanian. Selanjutkan mengelola lahan secara bersama untuk menghasilkan padi atau sayuran. Hampir tidak ada yang mendukungnya karena anggaran ada untuk membeli bahan pangan. Mereka meragukan hal itu bisa dikerjakan bersama oleh penduduk desa, tanpa suntikan dana dari atas. Ayahnya berpendapat bahwa warga bisa hidup mandiri, dia yakin bahwa penduduk masih punya kekuatan untuk bergotong royong. Keyakinan ayahnya akhirnya tidak didukung secara luas, hanya bisa menjadi kebun sayur di halaman rumah mereka sendiri.
Si gadis kembali bertutur, “Aku pernah menulis cerita bajak laut itu, lalu mengirimnya ke sebuah media cetak. Namun beberapa bagian harus diubah, termasuk akhir ceritanya.”
“Lalu bagaimana?” sang ayah menyela.
“Cerita ayah, para perompak itu berhasil mengalahkan para saudagar kaya dan mengambil seluruh hartanya. Kata redaktur terlalu tragis, maka aku mengubahnya.”
Sang ayah menatapnya tak berkedip.
“Si perompak mendapatkan cinta gadis pujaan hatinya.” Lanjutnya sambil tersenyum simpul, memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun rapi.
Hehehe.
“Sudah ayah duga. Kau memang selalu cerdas, namun keteguhan pendirianmu sepertinya belum lagi terasah.” timpal sang ayah yang dikenal selalu tegas dan blak-blakan dalam mengkritik sesuatu.
“Sepertinya kali ini ayah salah, aku hanya memiliki perasaan yang sangat peka dan lembut warisan ibu.” Kata si gadis dengan mantap. Perkataan yang mencerminkan watak pantang menyerah yang tersembunyi di balik paras cantiknya.
Mendengar itu, pak din’ hanya senyum tawar. Mereka memang tidak pernah akur mengenai cara pandang akan kehidupan. Si ayah selalu tegas, keras ketika merasa yang dilakukannya sebagai hal yang benar dan patut dilakukan. Hal yang menular ke diri sang anak, walau naluri kewanitaannya acap kali menempatkan perasaan di atas logika. Dan seperti biasa, pembicaraan seperti ini akan selalu panjang dan melelahkan, biasanya juga tidak ada titik temu antara keduanya. Mungkin hal ini jugalah yang membuat sang ayah kali ini memilih mengalah.
Pak Din’ menghela nafas, lalu menengadah ke langit-langit ruangan. Hanyut dalam kenangannya sendiri.
“Kau adalah gadis kecil paling lincah yang pernah ayah temui. Dulu, matahari belum sepenggal di atas kepala, kau sudah turun ke laut berenang di antara terumbu karang yang masih indah, menjelajah hutan belakang rumah yang dipenuhi pepohonan kelapa, atau bermain pasir putih yang kau bentuk serupa benda-benda. Kalau sudah begitu, aku dan ibumu pasti kerepotan mencari tempatmu bermain ketika sore menjelang.” Kenang sang ayah.
Si gadis masih terdiam, mencerna kata-kata ayahnya. Keduanya kini larut dalam memori puluhan tahun silam.
“Betapa indahnya kala sore di tepi pantai kita. Memandang langit yang membiaskan cahaya jingga saat sang mentari hendak pulang ke peraduannya. Nyiur yang melambai-lambai tertiup angin lembab dari arah timur. Ikan-ikan kecil yang masih saja berenang lincah di sela batu karang, padahal sebentar lagi gelap datang menjemput. Semuanya beradu serupa simfoni musik yang mengalun bersama sisi-sisi sepi dalam hidup kita. Bulan purnama yang muncul kemudian seolah menegaskan, beginilah seharusnya harmoni manusia dengan alam.” Kata si gadis dengan mata berkaca-kaca.
Hening. Mungkin inilah cara yang paling tepat mendalami sebuah komunikasi, justru dengan berdiam diri. Pak Din’ menatap bidadari kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik bermata sipit. Persis mata ibunya yang wafat beberapa tahun setelah melahirkannya. Tidak terasa air matanya menetes mengingat saat-saat mengantar istrinya ke pembaringan terakhir. Ya, semua akan kembali menjadi debu, kematian adalah kepastian bagi setiap makhluk yang bernyawa. Pun dia tersadar pada kenyataan itu, hatinya tetap saja terasa sedih ditinggal wanita yang begitu dia cintai.
Walau kini telah tiada, wanita yang telah menghabiskan hidup bertahun tahun bersamanya itu menitipkan sebuah permata hati. Gadis kecil yang berani menyelundup ke rumah buku-buku bergambar ketika gurunya pada suatu waktu melarang ada gambar di tiap buku anak-anak sekolah. Si kecil berambut keriting yang betah duduk memandang ke arah lautan, berharap ada kapal besar datang membawanya berpetualang. Gadis kecil yang rela dan tabah menjaga ibunya yang sakit ketika dirinya harus melaut berhari-hari.
Tak terasa bulir bening air mata menetes ke pipi pak Din’ yang berkerut tergerus usia.
“Jam kunjungan telah habis. Waktunya kembali ke kapal.” Suara penjaga memecah kesunyian.
Peringatan itu jadi penanda sebuah perpisahan, yang berarti akan lama lagi menanti pertemuan selanjutnya. Mereka harus bergantian dengan keluarga tahanan lainnya. Mungkin tahun depan, mungkin sepuluh tahun ke depan.
“Bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu nak?”
“Mandiri, bekerja keras dan senantiasa mempelajari kehidupan dimana pun berada, Ayah…” ucapnya pelan.
Sebelum berpisah, sang ayah mendekap erat si gadis. Pelukan hangat yang selalu dirindukannya.
***
Perjalanan pulang selalu menyisakan kenangan. Perahu bercat putih terus melaju walau lambung kapal terus dihantam gelombang tinggi. Ini awal musim angin barat yang berat. Gadis berkulit coklat duduk di atas lantai papan yang sedikit basah oleh tumpahan oli kapal. Jaket kulit yang dikenakannya seperti menyatu dengan rambut hitam sebahu yang tergerai diterpa angin.
"Berpisah adalah kerelaan untuk melepaskan. Tidak perlu patah semangat menghadapi masalah. Jika masih ada hal yang layak diperjuangkan dalam kehidupan ini, maka raihlah walau berat..." batinnya.
***



Posting Komentar