JANUARI 2015
Hujan akhirnya datang juga, tetesnya bagai senandung merdu yang membuat Rupat jadi lebih bergairah. Beberapa minggu telah berlalu di bulan Januari, tercecer beberapa momen berharga yang terasa kurang tanpa sebuah catatan. Perekonomian kian terpuruk, harga bahan bakar minyak tidak stabil, harga getah karet sudah terkapar di titik nadir. Di antara hari-hari yang diselimuti kekhawatiran, kegelisahan dan tanda tanya, beruntung padi hadir sebagai kemewahan. Saat bulan baru muncul bersama harapan baru, berduyun-duyun petani Rupat memanen bulir-bulir padi di tanah sendiri.
Di malam hari saat rembulan memberi sinar di angkasa yang kelam, warga pulau berselimut cahaya lilin. Bukan tiba-tiba romantis, lampu memang sedang tidak hidup beberapa hari belakangan di sebuah desa bagian tengah pulau. Sementara itu di kota-kota besar, para pemuda-pemudi pengangguran berselancar di dunia maya mencari berita tentang pengumuman hasil tes CPNS 2014. Di beberapa portal website, berita jatuhnya pesawat air asia menambah deretan angka kecelakaan pesawat yang terjadi di tanah air.
Waktu terus berlalu meninggalkan remah-remah roti kehidupan dalam segala bentuk baik dan buruknya. Ada kebahagian dirasakan senikmat-nimatnya, adapula kesedihan yang menguji dan tetap harus dilalui dengan tenang. Hari ke hari, tahun ke tahun terkadang hidup terasa hanya sebagai perulangan belaka, sebuah labirin kemonotonan yang mendorong manusia mencari celah memutus rantai kebosanan. Di bagian akhir Januari, kegiatan musrembang desa berentetan bagai peluru senjata AK-47, meluncur dari satu desa ke desa lain tanpa jeda. Kegiatan yang berakhir kala Pak Camat mengundang segenap perangkat kerja dan warga pulau Rupat untuk menghadiri Musrenbang kecamatan.
Siapa yang menghadapi perulangan dengan cerdas, seyogyanya bisa menentukan jalan mana lagi yang harus dilewati. Di tahun 1984, Indonesia mencapai peningkatan produksi beras yang signifikan, bagi sebagian orang digemborkan sebagai tonggak swasembada pangan Indonesia. Dukungan finansial keuangan dari luberan ‘oil bomb’ di tahun 70 an mengangkat juga bidang pertanian kala itu, khususnya di komoditi padi. Namun apa hendak dikata, intensifikasi dan teknologisasi pertanian meninggalkan lubang rapuh yang hancur berkeping-keping digerogoti zaman. Tidak lama berselang, Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras, malah lebih parah dari sebelumnya.
Di awal tahun 2015, dari istana kepresidenan RI, diumumkan pengangkatan 10.000 personel angkatan darat menjadi penyuluh pertanian. Bapak Jokowi menargetkan tiga tahun ke depan Indonesia bisa swasembada padi, jagung dan kedelai. Sebagian orang yang kadar pesimisnya sudah sampai pada tingkat maksimum, mungkin akan mempertanyakan darimana datangnya optimisme seperti itu. Mungkin ada baiknya para pemimpin kita yang ingin turun ke lapangan langsung, mengambil tindakan senyap, sendiri atau menyamar menjadi orang biasa. Hingga kondisi sebenarnya bisa terungkap tidak meminjam petuah dari para elit atau deretan statistik pertanian yang senantiasa menunjukkan peningkatan.
“Tadi setelah kita melihat dan berdialog dengan para petani, dijelaskan bahwa yang tadinya panen padi 1,5 ton/ha meningkat menjadi 3 ton/ha, yang tadinya 3 ton/ha meningkat menjadi 6 ton/ha dan yang tadinya 6 ton/ha menjadi 8 ton/ha, kelipatan-kelipatan seperti itu yang terus disebar- luaskan,” Pak Presiden menyampaikan pidatonya pada sebuah acara di Jakarta, termuat pada sebuah website pemda yang mengurusi ketahanan pangan.
Ditegaskan kembali oleh Pak Jokowi, “Contoh sudah ada, yang mendampingi sudah ada, yang mengambil produk juga sudah ada, sehingga kemitraan seperti ini akan kita perluas dan kita nasionalkan. Kita langsung kerja, dan kita lihat tiga tahun yang akan datang.”
Bahkan toke sawit pun tersenyum kecut.
FEBRUARI 2015
Sepotong kue di Februari. Tepat setahun sudah acara panen raya padi di Pulau Rupat. Sepotong kisah yang tak hanya menjadi cerita, namun juga memantik kreatifitas beberapa anak muda untuk mulai berkomunikasi dengan dunia luar. Tepat setahun blog kabarupat mengudara, coba menyibak asap tebal nir informasi yang menyelimuti pulau jauh jauh. Tentu saja dengan berbagai pertimbangan dan pro kontra di dapur redaksi. Salah satu penalaran paling banal adalah bahwa semua hal harus selalu menyenangkan, menghibur, menggiurkan, dan informatif. Hah!
Harus diakui, zaman telah mentransformasikan dirinya kedalam bentuk yang berbeda, dominasi citra dan imaji telah menempati relung-relung terjauh dari eksistensi manusia. Maka adaptasi adalah jalan agar tidak terlindas putaran roda zaman. Termasuk pada sektor pemberdayaan masyarakat, sudah sepatutnya mengambil langkah yang lebih adaptif, tidak lagi menempuh jalur yang bersifat struktural dalam skala massal. Menggiatkan komunitas-komunitas kecil dengan berbagai varian kegiatan adalah langkah paling masuk akal untuk memecah kebuntuan pembangunan masyarakat. Di Februari setahun silam, dua peluru telah meluncur di daratan pulau Rupat, penerbitan tulisan melalui media independen dan kiprah rumah komunitas yang makin menggemaskan untuk ditindak lanjuti.
Masih di awal bulan aquarius, jerebu dari lahan gambut mulai membuat semput. Asap datang dan pergi seolah mengingatkan bahwa pergerakan adalah sesuatu yang pasti. Satu persatu penyuluh pergi, menyisakan gerbong depan kereta yang tertatih. Farewall party, valentine day or happy birthday, di bulan Februari dibutuhkan banyak kue. Oh, jangan lupa juga kue demokrasi yang akan dibagikan di pilkada kabupaten beberapa bulan ke depan.
Taruhlah kue di atas piring, hindangkan bersama teh manis, menemani kita di pagi dan sore hari. Mari menyeruput teh dan menikmati kue di dipan sederhana, sebab berita bukan lagi menjadi barang mewah, cukup dengan gadget murah atau radio berbaterei kecil kita bisa menyantap berita. Jendral polisi yang berseteru dengan komisi pemberantasan korupsi, eksekusi pidana mati bagi pengedar narkoba, hingga berita persidangan tersangka illegal logging di pulau Rupat.
…
Musim kering membuat beberapa kepala keluarga di Pulau Rupat mengalihkan mata pencaharian, sebagian menjadi pembuat batu bata, sebagian lagi menjadi pembuat kayu arang. Yang menjadi masalah adalah tanaman bakau yang menjadi penahan abrasi dan gelombang laut dibabat habis. Belum lagi pohon pinus dan tanaman lain yang disingkirkan dari tepi pantai oleh investor pariwisata. Keberadaan mangrove dan pohon cemara yang sudah bertahun-tahun itu menjadi tanggul alami mencegah masuknya air laut ke daratan. Sawah ladang yang berada tak jauh dari pantai terancam tutup, warga juga dihadapkan pada kekeringan yang menguras persediaan air, termasuk air bersih untuk mandi, mencuci dan memasak.
Menunggu hujan gerimis kala dunia sudah selebar daun kelor…
MARET 2015
Berbulan-bulan Rupat dilanda kekeringan, beberapa titik api yang memicu kebakaran luas semakin sulit dipadamkan. Letak lahan yang terbakar susah dijangkau dengan jalan darat, ditambah cuaca panas dan angin kencang semakin menyulitkan pemadaman. Kabut asap tebal dari lahan gambut yang menyesak di bulan ini sudah cukup menjadi sebuah awal yang membawa kita pada kenyataan pahit. Alam sedang marah-marah. Kemarau panjang dan air bah telah menjadi keseharian yang seolah-olah merupakan kejadian-kejadian biasa sebagai siklus alami. Badan penanggulangan bencana daerah kabupaten Bengkalis menyatakan sejumlah petugas dan unit pemadam semakin gencar menanggulangi api di lokasi utama kebakaran lahan dan hutan.
…
Di tempat yang terpisah, anggota komisi II DPRD Kab. Bengkalis meninjau proyek jalan poros Rupat-Rupat Utara. Bapak anggota dewan turun langsung ke lapangan melihat proses penuntasan proyek multiyears yang telah berlangsung beberapa tahap tersebut. Jalan utama sepanjang 51 km tersebut dibangun dengan anggaran 495 milyar rupiah dari APBD Kab. Bengkalis. Dikatakan bahwa tahap akhir pembangunan jalan ini telah dimulai sejak 28 oktober 2013 dan harusnya tuntas pada 16 Desember 2015. Optimisme tinggi sedang merebak, melihat para buruh pekerja tidak hentinya menimbun jalan siang dan malam.
…
Pada tanggal 10 Maret 2015, bertempat di kantor desa Pancur Jaya Kec. Rupat, dilaksanakan pelantikan pjs. kepala desa baru. Pada acara yang dihadiri oleh Bupati Bengkalis tersebut, dilakukan pengambilan sumpah jabatan kepada Enrawan, SP, yang juga merupakan koordinator PPL Kec. Rupat dan Rupat Utara. Pak bupati berpesan bahwa walaupun bersifat sementara, tugas yang diemban harus dikerjakan sebaik mungkin, yakni menyelenggarakan pemerintahan, menjalankan program-program kerja, serta pembinaan kepada masyarakat.
…
Jalur penyeberangan kapal ferry roll on roll off (roro) dari Kelurahan Tanjung Kapal menuju Kota Dumai sebentar lagi akan dilayari dua buah kapal-pergi pulang (PP). Rencananya pada bulan April mendatang, dinas perhubungan Riau bekerja sama dengan syahbandar Dumai menambahkan satu roro lagi dari sebelumnya hanya ada satu kapal yang beroperasi. Kapal penyeberangan yang sudah beroperasi saat ini adalah KMP Kakap dengan kapasitas 162 GT, sedangkan roro yang akan ditambahkan adalah KMP Parai dengan kapasitas 250 GT. Diinformasikan bahwa body kedua roro tersebut cukup besar, hingga sanggup membawa puluhan mobil dan sepeda motor.
…
Beralih ke desa bagian tengah di bulan Maret yang kering, debu panas berputar di atas tanah yang gersang. Rumah baca pulau Rupat terus menggeliat, berkat swadaya masyarakat, dua buah papan tulis akhirnya bisa tersedia. Papan putih tidak sama besar itu menjadi capaian tersendiri yang tidak kenal lelah dari pengelola rumah baca. Bukan tentang harga tentunya, tapi nilai yang telah dicapai dan kerja keras yang membuahkan hasil. Anak-anak kecil itu kini tak lagi harus mencari kertas bekas untuk ditulisi spidol, sudah ada papan tulis dari hasil jerih payah bersama. Cerita rumah baca belum usai, di tengah ke-pasifan dunia pemberdayaan, masih ada ada hati dan genggaman tangan yang ingin terus maju. Seperti anak-anak kecil rumah baca yang membangun pohon harapan bersama PM indonesia mengajar.
Menabur cinta agar tunas-tunas muda bisa bersemi…
APRIL 2015
Siang yang mendung di halaman masjid Sungai Rambai, Kelurahan Terkul, berdiri dengan gagah bapak Camat Rupat, H. Yusrizal S.Sos, Msi. Beliau bersiap melepas peserta pawai ta’aruf Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ). Hari itu, Selasa 7 April 2015 terhitung sebagai hari pertama pelaksanaan MTQ ke 39 tingkat kecamatan Rupat. Di sela pawai meriah itu tampak anggota DPRD Zamzami Harun, Kapolsek Rupat AKP Jasri Tabing, para kepala UPTD se-Kecamatan Rupat, serta lurah dan kades yang masih aktif.
“Dengan pelaksanaan pawai ta’aruf ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat menghadiri dan memeriahkan acara MTQ tingkat kecamatan ini. Diharapkan juga kepada seluruh peserta untuk dapat melaksanakan kegiatan pawai dan MTQ ini dengan tertib dan lancar.” Begitu harapan dari pimpinan yang hadir dalam acara tersebut.
…
Beberapa minggu kemudian, tepatnya di penanggalan 16 April 2015 berlangsung pertemuan bulanan PPL Kec. Rupat-Rupat Utara. Pertemuan rutin yang diadakan oleh Balai Penyuluh Pertanian Rupat tersebut berlangsung di aula kantor UPTD Pertanian dan Peternakan Kec. Rupat. Berkenan hadir pada acara tersebut, ketua KTNA Kec. Rupat, Kepala UPTD Tanak Rupat, Kepala UPTD Tanak Rupat Utara, Kepala UPTD Bunhut Kec. Rupat, Dokter Hewan Kec. Rupat, Kapolsek Rupat, kelompok tani dan para penyuluh pertanian se-Pulau Rupat. Berdasarkan informasi dari peserta pertemuan, pada tahun 2015 ini akan diadakan pemilihan ketua KTNA yang baru di kecamatan Rupat. Kemudian untuk kegiatan Pekan daerah bidang pertanian tahun 2016, diharapakan ada persiapan berupa produk unggulan lokal Kecamatan Rupat.
Terasa spesial dalam pertemuan bulanan penyuluh kali ini karena berkenan hadir Kepala Bidang Sumberdaya dan Kelembagaan Penyuluh-Badan Ketahanan Pangan Kab. Bengkalis, Bapak Ir. Moh. Fadhlan, M.Si. Dalam paparan Kabid Penyuluhan, mengharapkan adanya perekrutan penyuluh pertanian di tahun-tahun mendatang.
“Rekruitmen tenaga PPL sebaiknya kembali diadakan oleh Pemda Bengkalis, sebab di tahun 2015 ini sudah tercatat 151 desa/kelurahan yang ada. Badan ketahanan pangan dan penyuluhan sayangnya hanya bisa memenuhi kebutuhan penyuluh separuh dari jumlah tersebut.” Ujar Pak Fadhlan.
Lanjut lagi bahwa beberapa kegiatan telah dilakukan oleh BKP, seperti pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), pelatihan budidaya tanaman hidroponik, mengadakan kelas-kelas Dinamika Kelompok Tani, membimbing tenaga fasilitator pada pelatihan fasilitator daerah (Fasda), serta gencar dalam usaha pengadaan demplot tanaman pangan untuk setiap kecamatan. Di akhir paparan, Pak Kabid menaruh harapan agar para penyuluh terus meningkatkan kemampuan dan kapasitas dirinya dalam bidang penyuluhan pertanian.
Sebelum pertemuan bulanan PPL tersebut ditutup, di dalam forum juga didiskusikan mengenai instruksi khusus dari Presiden RI tentang swasembada tiga komoditi pangan yaitu padi, jagung dan kedelai (Pajale). Target swasembada pangan secara nasional digesa terpenuhi pada Tahun 2017. Program upaya khusus (upsus) pajale mencakup rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RIJT), percepatan optimalisasi lahan (POL), dan gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPTT). TNI melalui bintara pembina desa (Babinsa) akan turut memberikan penyuluhan bersama para PPL, sedang Polri diminta untuk turut melakukan pengawasan.
Beberapa hari setelah pertemuan rutin itu, di ruang kerja PPL Rupat tergeletak sebuah koran lokal. Salah satu isi beritanya bahwa komisi penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan provinsi riau merilis produksi beras di riau menurun setiap tahun, rata-rata mencapai 13 persen. Tercatat pada tahun 2010, angka produksi beras riau adalah 363.314 ton, sedangkan di tahun 2013 turun menjadi 274.649 ton. Hal tersebut terjadi karena kerusakan infrastruktur pengairan di riau, program pompanisasi belum berjalan, serta berlangsungya terus alih fungsi lahan sawah menjadi lahan sawit, tercatat selama tiga tahun terakhir, 20.000 Ha sawah hilang.
Upaya khusus yang dicanangkan Pak Jokowi mendapat aral melintang. Itu pasti.
MEI 2015
Rintik merintik gerimis pada subuh yang syahdu di bulan Mei. Terkadang perjalanan menuju ke tempat yang dekat tertimpa hal-hal yang membuat kita harus menjauh. Realita yang kita lakukan saat ini membutuhkan bekal, walau itu hanyalah seumpama sebungkus makanan. Hari buruh internasional, yang lebih akrab dengan sebutan may day diperingati kaum pekerja di seluruh belahan dunia. Sehari kemudian, 2 Mei 2015 diperingati sebagai hari pendidikan nasional, upacara di lapangan terbuka pun diadakan. Hanya sebagian orang yang ingin mengerti bahwa model pendidikan kita hingga saat ini belum lagi mencapai tahap memanusiakan manusia. Padahal medium pendidikan menempati posisi paling vital dalam membangun karakter manusia pada suatu bangsa.
Peringatan hari-hari besar telah usai, kehidupan kembali berjalan normal seperti biasanya. Siang yang terik kala berita hinggap dan membuat hati semakin miris. Sebuah koran lokal tergeletak di ruang baca posko PPL Rupat, tertanggal 16 mei 2015.
“Bapak Presiden sudah mengatakan, kalau nantinya perlu, toh dengan cepat kita bisa impor beras Ujar Menteri BUMN, Rini Soemarno.
Peluang pemerintah melakukan impor beras semakin dekat. Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu terakhir terus menyuarakan pentingnya ketahanan pangan lewat swasembada pangan mulai melunak, terkait kebijakan membeli beras dari negara lain. Ibu Rini, yang juga merupakan mantan menteri perindustrian & perdagangan era Presiden Megawati menyatakan, bahwa secara prisnsip presiden tidak menutup kemungkinan membuka kran impor beras. Fakta-fakta yang terjadi di lapangan nantinya akan dijadikan pijakan dalam pengambilan keputusan tersebut. Meski demikian, langkah impor beras itu masih belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Bulog, menurut dia saat ini sedang berusaha mengoptimalkan penyerapan beras dari petani. Saat ini stok beras di gudang bulog sekitar 1,2 juta ton, dikatakan akan terus ditambah sampai 1,5-2 juta ton. Angka tersebut adalah stok minimal Bulog, agar tetap ada cadangan untuk melakukan operasi pasar jika terjadi indikasi kenaikan harga beras. Seruan terakhir presiden soal ketahanan pangan disampaikan pada saat kunjungan ke Maluku, 8 Mei 2015. Pak presiden untuk kesekian kalinya mengkritik langkah impor beras yang dilakukan Indonesia selama ini.
Seruan bisa saja menjadi sekedar retorika kala fakta berkata lain. Selain produksi beras dalam negeri yang terus anjlok disebabkan berbagai faktor, bukankah tidak mudah melawan para tengkulak pasar bebas?
Kehidupan telah melintasi jarak yang begitu jauh, mengikuti mesin yang memutar roda berkecepatan tinggi. Di saat yang sama terkadang kita justru memperlambat sebuah jalan lain dimana disitulah seharusnya kita bisa berlari cepat. Sebuah warta kembali menyeruak mengenai parade statistik pertanian di sela musim tanam para petani padi.
mirip dengan janji kosong para pengemis elektoral disetiap momen pemilu.
JUNI 2015
Penduduk Pulau Rupat tenggelam dalam rutinitas mereka masing-masing. Di sebuah desa bagian tengah pulau, para petani mulai menekuni kerja ladang mereka. Kala sore menjelang, giliran anak-anak kecil yang terlihat menggembalakan sapi atau kambing. Lain halnya dengan warga yang senang menanam sayuran, terdengar cerita mereka berburu babi hutan yang merusak ladang sayuran dan singkong mereka. Selain semua hal tersebut adalah sebuah berita gembira bagi para penggemar buah durian. Si raja buah tersebut telah menggugurkan anak-anak mereka ke tanah, berkah bagi mereka yang telah menunggu sejak lama.
Langit di atas Pulau Rupat tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu, enggan memperlihatkan diri. Di sebuah pasar Sabtu, antrian pembeli mengular. Sejumlah ibu-ibu tampak kaget dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Beberapa kebutuhan dapur yang yang harganya merangkak naik antara lain cabai, bawang, kacang tanah, minyak goreng, dan kebutuhan lain. Bagi sebagian orang dan pedagang sudah mahfum bahwa menjelang ramadhan biasanya harga bahan kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan harga.
Spekulasi kenaikan harga di pasar-pasar tradisional Pulau Rupat menjadi perbincangan yang cukup menarik. Melambungnya harga cabai, misalnya dispekulasikan karena pasokan cabai terlambat masuk ke Pulau Rupat. Pasalnya antrian panjang di pelabuhan roro penyeberangan di Pelabuhan Dumai menghambat kendaraan pengangkut barang dagangan. Para komentator yang lebih ekstrem menjadikan oknum tidak bertanggung jawab sebagai dalang kelangkaan barang. Kambing hitam tersebut sengaja memanfaatkan situasi menjelang bulan puasa tersebut untuk mengeruk keuntungan. Tentu saja hal tersebut tidak bisa dibuktikan keabsahannya, gosip dan spekulasi tersebut beredar di kalangan bapak-bapak yang hobinya nongkrong di kedai kopi tepi jalan utama.



Posting Komentar