Diklat Teknis Budidaya Padi

Air laut berkilau diterpa cahaya matahari. Dari pepucuk nyiur kelapa, angin membelai penuh kasih. Empat buah perahu speed yang tertambat di kayu dermaga tampak bergoyang dipermainkan arus. Di bawah sana, gelombang tiada henti memukul tiang-tiang beton berlumut. Alam nyanyikan  kidung penghapus lara…

“Baru dua orang, tunggu bentar, ya.” Kata agen speed berbaju garis abu-abu itu. Kuserahkan lembar 50 ribu untuk menukarnya dengan tiket kapal. Dia mengembalikan dengan pecahan uang 20 ribu.

“Air pasang ni nampaknya, bang.” Tanyaku sembari memasukkan uang kembalian ke dalam kocek celana.

“Iya, gelombang juga cukup kuat.” Jawabnya memandang ke mataku.

“Usah cemas betul, insyaallah aman sampai seberang.” Lanjut pria berambut ikal itu. Mungkin dia melihat kekhawatiran di raut wajahku.

“Iya, bang.” Ujarku lalu menepi ke ruang tunggu penumpang.

Beberapa waktu lalu, kapal speed yang kutumpangi dari Dumai menuju ke Rupat dihantam ombak besar. Hal tersebut membuatku merasa sedikit cemas kala harus melewatinya dengan perahu cepat tersebut. Cuaca di musim penghujan ini juga tidak menentu, kadang di sekitar dermaga air cukup tenang, namun sampai di tengah laut berubah kencang.

15 menit waktu berlalu, sebuah sepeda motor yang membawa sepasang muda mudi melintas sampai ke ujung dermaga, lalu berturut-turut lelaki paruh baya mengantar seorang ibu, kemudian seorang lelaki berambut cepak datang sendiri, dia memakai baju warna merah dan ponsel yang tidak pernah lepas dari genggaman tangan.

“Mau ke Dumai?” begitu kalimat yang senantiasa meluncur dari si agen berambut ikal ketika melihat ada orang turun di dermaga. Lembaran rupiah di tangannya terus bertambah hingga penumpang terakhir menyetor uang tiket.

“Ayo berangkat!” Serunya ketika jumlah penumpang mencapai sembilan orang. Kapal speed kali ini memang cukup besar, bisa memuat 9 hingga 12 penumpang.

Perjalanan kembali dimulai. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kabupaten Bengkalis kembali mengirim utusan ke kamp pendidikan dan latihan. Tujuannya meningkatkan skill penyuluh dalam Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai yang ditargetkan pada tahun 2017. Dari pulau Rupat, target yang dituju yaitu kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Modal di dompet 300 ribu rupiah. Cuaca sejuk bersahabat. Kendaraan yaitu mobil merk fortuner. Puasa ke 4 di bulan ramadhan 1436 hijriah.

Pejalanan untuk memetik pelajaran dan menuai keterampilan kali ini, digadang-gadang sebagai wujud nyata peningkatan kualitas penyuluh. Hal tersebut tidak lain untuk mendorong lejitan produksi pertanian di Kabupaten Bengkalis, utamanya tiga komoditi yang dalam Upsus Pajale. Peserta dari kabupaten penghasil minyak dan kelapa sawit ini telah mengkonfirmasi kehadiran penyuluhnya berjumlah enam orang. Dua penyuluh dari Kecamatan Rupat-Rupat Utara, dua dari Kecamatan Bantan, satu orang Siak Kecil dan Bukit Batu. Pembagian tugas sesuai surat perintah dari kantor, 3 PPL akan mengikuti diklat tanaman kedelai dan 3 lagi mencoba peruntungan di diklat tanaman padi.

Sore menjelang ketika aku tiba di Balai Pelatihan Marpoyan, kenangan menyeruak dari ujung-ujung syaraf. Memori dua tahun lalu, dimana enam orang anak muda dari kecamatan Rupat-Rupat Utara digembleng agar mampu menyuluh dengan baik dan benar.

Gelap menjerat rembulan, tidak menyisakan terang. Sayup-sayup suara orang sedang mengaji mengalun dari surau. Beberapa peserta diklat masih berdatangan, seorang penyuluh dari kecamatan Siak Kecil datang bersama PPL dari Bukit Baru. Mereka bertegur sapa bersama peserta lain, lalu mencari kamar asrama yang masih kosong. Sedangkan seorang penyuluh dari Rupat Utara masih berjibaku dengan kemacetan di daerah Pinggir.  Jika ingin melewati kemacetan parah di jalan lintar antar provinsi tersebut, mungkin tidak akan berakhir hingga esok pagi. Mobil yang kutumpangi juga melewati jalan yang sama, butuh insting yang kuat dari sopir mobil hingga dapat menyelinap diantara rigid kemacetan.

Kembali ke soal pelatihan. Penyelenggara diklat kali ini adalah UPT Pelatihan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Riau. Balai pelatihan ini beralamat di jalan Kaharuddin Nasution no. 339 Pekanbaru, telp 0761-71144, website: www.upt-peltanriau.com Email: pelatihantphriau@yahoo.co.id. Maraknya media sosial dimanfaatkan juga oleh UPT ini, dengan membuat facebook bernama: Upt Pelatihan TPH Riau, dengan group fb, civitas academika UPT Pelatihan TPH Riau/BLPP Riau.

Pelatihan yang dilaksanakan di bulan puasa ini, merupakan bagian dari program pemerintah untuk swasembada padi, jagung dan kedelai. Tujuannya meningatkan kompetensi penyuluh dalam teknis budidaya padi sehingga dapat membimbing petani dalam meningkatkan produksi. Output, terlatihnya 30 orang penyuluh pertanian dalam teknis budidaya padi. Adapun penyuluh yang hadir dari 10 kabupaten se provinsi Riau, yaitu Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan, Kuantan Singingi, Siak, Bengkalis Dan Kepulauan Meranti.

Pembukaan yang terlambat dan beberapa hari pelatihan di bulan puasa yang menguras energi.  Pelatihan ini benar-benar memberikan pengalaman yang berbeda, walau peserta sedang menahan lapar dan dahaga, tetap saja jadwal diklat sama seperti hari biasa. Tidak ada yang perlu dikeluhkan jika cobaan dihadapi dengan keikhlasan.

Malam ke empat pelatihan. Kunyalakan laptop butut yang senantiasa menemani perjalananku. Memori dan hardisknya sudah sering menjerit karena kepenuhan, namun setiap langkah sebaiknya memiliki catatan tersendiri. Kualihkan pandangan ke barisan semut merah di lantai marmer lalu mengetik pelajaran tentang hama dan penyakit tanaman padi.

Hama adalahbinatang yang secara langsung maupun tidak langsung mengganggu atau merugikan.

Penyakit tanaman suatu rangkaian proses fisiologis yang disebabkan oleh rangsangan yang terjadi secara terus menerus pada suatu penyebab primer. Patogen penyakit terdiri dari cendawan/jamur, bakteri, virus.

Hama dan penyakit sebaiknya dikendalikan dengan prinsip dasar pengendalian hama terpadu, antara lain menjaga sanitasi lingkungan, melestarikan musuh alami, memelihara keseimbangan agroekosistem, hindari penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Adapun beberapa hama yang serign menyerang tanaman padi adalah sebagai berikut.

Pengerek Batang padi

Tanaman rentan terkena mulai dari pembibitan sampai pembentukan malai

Disebut sundep pada masa vegetatif, disebut beluk (malai hampa) pada stadia generatif

Siklus hidup 40 – 70 hari

Wereng coklat

Tanaman rentan terkena mulai dari pembibitan sampai fase matang susu

Gejala tanaman menguning dan cepat sekali mengering

Umumnya mengumpul pada suatu lokasi melingkar disebut hoperburn

Siklus hidup 21-33 hari

Ambang ekonomi 15 ekor per rumpun

Walang sangit

Fase yang rentan adalah dari keluarnya malai sampai fase matang susu

Akibatnya beras berubah warna, mengapur dan hampa

Hawar daun bakteri

Gejala penyakit bercak berwarna kuning sampai putih

bakteri menginfeksi masuk sistem vaskular tanaman padi pada saat tanam pindah atau sewaktu dicabut dari tempat pembibitan

Cara pengendalian:

Penggunaan varietas tahan

Sanitasi seperti membersihkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi.

Jika menggunakan kompos jerami, pastikan sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam pindah.

Gunakan benih atau bibit yang bebas dari penyakit hawar daun bakteri.

Gunakan pupuk nitrogen sesuai takaran anjuran.

Jarak tanam jangan terlalu rapat.

Blas (blast)

Penyakit blas menginfeksi tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan. Gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat.

Cara pengendalian:

Gunakan beberapa varietas tahan secara bergantian

Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran.

Upayakan waktu tanam yang tepat

Perlakuan benih sesuai anjuran.

Tungro

Penyakit ini ditularkan oleh wereng hijau. Tanaman yang terinfeksi tumbuh kerdil dengan anakan sedikit. Daun mengalami perubahan warna dari hijau menjadi sedikit kuning sampai kuning oranye dan kuning coklat. Ambang kendali adalah 5 ekor wereng hijau per rumpun. Siklus hidup 23-30 hari.

Cara pengendalian:

Tanam varietas tahan wereng hijau

Pemberian insektisida dilakukan apabila sudah mencapai ambang batas ekonomi.

Kuhentikan mengetik. Hembusan angin dari kipas yang tergantung dilangit-langit membuatku gigil. Kutekan kontrol kekencangan kipas tersebut yang melekat di dinding depan meja laptop. Kubaca ulang bahan yang telah kucatat. Materi pelajaran seperti ini, bagi sebagian orang yang berkecimpung di dunia pertanian bukanlah hal yang baru, artinya bukan sesuatu yang mengejutkan. Salah satu yang menyebabkan aku tetap merekamnya adalah keinginan diriku melawan lupa. Kapasitasku mengingat terbilang rendah, baik itu tentang tulisan apalagi hal-hal berbau angka dan perhitungan. Salah satu cara menyiasatinya adalah dengan menuliskannya kembali, lalu mempublikasikan agar orang-orang yang membutuhkan informasi tersebut juga bisa membacanya. Sesederhana itu.

Malam kembali larut dalam keheningan, kulanjutkan pencatatan hasil pelatihan. Setelah mengetahui beberapa hama tanaman padi kulanjutkan ke tema Pengembangan Pestisida Nabati.

                Penggunaan pestisida sintetis atau kimia banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak tersebut antara lain mencemari lingkungan (tanah, tanaman, air dan berbagai komponen ekosistem lainnya). Sejalan dengan hal tersebut pada pengembangan pertanian model ekologis, digunakan sarana usahatani sesuai dengan cara pandang ramah lingkungan. Salah satunya metoda pengendalian terhadap beberapa jenis OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) menggunakan bahan-bahan alami yang dikenal dengan nama pestisida nabati. Dalam mengendalikan OPT di lapangan, pestisida nabati menurut jasad sasarannya dapat berperan sebagai :

  1. Insektisida

1. Pinus ( Pinus merkusii)

Bagian : batang

Pembuatan :

Serbuk gergaji kayu pinus dijemur sampai kering

Sebarkan ke lahan pesemaian pada pagi hari

Sasaran : Wereng batang coklat (menghambat penetasan)

2. Picung/Kluwek ( Pagium edule)

Bagian : buah

Pembuatan :

Satu buah picung dihancurkan

Rendam dalam satu gelas air selama satu hari satu malan.

Hasil rendaman tersebut disaring dan dilarutkan dalam sepuluh liter air, disemprotkan.

Akan lebih efektif dan efisien bila dikombinasikan dengan perangkat yuyu atau ketam/laos, kotoran ayam, bangkai keong mas atau bahan perangkap lain

Sasaran : walang sangit.

3. Sirsak ( annona muricata ) dan tembakau ( nicotiana batacum )

Bagian : daun, biji sirsak dan daun tembakau

Pembuatan : 50 lembar daun sirsak diremas-remas dicampur satu ons tembakau, direndam dalam satu liter air selama 24 jam. Air rendaman disaring dan dilarutkan dlam 28 liter air kemudian disemprotkan akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan perangkap tersebut diatas.

Kandungan : annonain (sirsak), nikotin (tembakau)

Sasaran : walangsangit

4. Gadung ( dioscorea hispida)

Bagian : umbi

Pembuatan : umbi gadung seberat 5 kg diparut kemudian direndam dalam 10 liter air. 1 liter air rendaman dicampur dengan 14 liter air untuk disemprotkan

Kandungan : diosgenin dan steroid saponin

Sasaran : walang sangit.

5. Lengkuas ( alpinia galanga) dan zahe ( zingiber oficinalis )

Bagian : rimpang

Pembuatan : lengkuas dan zahe ditumbuk atau diparut, kemudian dipers untuk diambil sarinya, selanjutnya dicampur air secukupnya untuk disemprotkan pada areal tanaman terserang

Sasaran : ulat grayak pada kedelai

Jam digital di handphoneku menunjuk pukul 24:00 WIB. Tiada lagi suara di asrama, mungkin para peserta pelatihan teknis budidaya padi ini sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Jam empat subuh kami harus bangun lagi untuk makan sahur, sebuah hal yang terhitung cukup berat untuk diriku. Tugas mengawal program upsus pajale di tingkat kecamatan dan tingkat desa mengharuskan para penyuluh pertanian bekerja lebih ekstra. Pelatihan demi pelatihan, penyuluhan, penyusunan berbagai dokumen pendukung kegiatan petani di lapangan, hingga menjaga kobaran semangat petani untuk mencapai target swasembada pangan di tahun 2017. Misi yang sangat berat, membutuhkan keyakinan, kerja keras dan semangat membara dari setiap orang. 

Kusandarkan punggung ke kursi plastik, pandanganku terpaku pada langit-langit putih dengan sarang laba-laba. Perjalananku di dunia penyuluhan dimulai dari sini, sekitar dua tahun lalu. Balai pelatihan Marpoyan, ada semacam kenangan yang melekat padanya. Pada widyaiswara, panitia dan ibu di dapur konsumsi. Semua itu muncul di kepalaku, membuat sebuah senyuman tersungging di malam yang keluh. Kami datang lagi, kali ini belajar tentang padi. Tentu saja bagi mereka yang mempelajari hanya teknis budidaya padi, tidak akan mendapat apa-apa dari sini. Ilmu padi adalah tentang kehidupan, bagaimana sang dewi sri dalam mitologi Jawa mengajarkan tentang kebersamaan, kebahagiaan, kerendahan hati. Bukankah darinya kita belajar tentang ilmu padi, dimana bulir padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Ilmu yang kita peroleh bukanlah untuk bersikap jumawa, tapi agar lebih bijaksana dalam mengarungi  bahtera kehidupan ini.

Pernah kulalui petak sawah di pulau kecil itu

Di bulan juli, padinya hijau melambai padaku

Kuukir tekad pada batang kelapa di sekeliling sawah itu

Hidupkan ilmu hingga gelap tak lagi turun kepadaku

Lalu hutan, sungai, laut, pantai semua berseru

Siapa punyai keyakinan, akan terbantu!

Posting Komentar