Langit di atas pulau Rupat terlihat menghitam, beberapa saat kemudian hujan tumpah ruah membasahi bumi. Beberapa anak kecil berseragam sekolah tampak berteduh di sebuah teras rumah, perjalanan menuju tempat belajar harus tertunda. Tubuh-tubuh kecil itu merapat ke dinding kayu, sepatu kusam mereka ditimpa tetes demi tetes air dari langit. Kuperhatikan mereka dari teras rumah, sembari menyeruput teh manis hangat yang baru saja kuseduh di dapur.
Hari sabtu pagi di bulan keempat tahun 2015, mendung masih bergelayut kelabu di atas langit Desa Sungai Cingam. Kaki masih terasa berat untuk diayun, cuaca seperti ini sangat menggoda untuk bermalas-malasan.
Arief, teman senasib sepenanggunganku kala berburu beras di Pulau Rupat, telah tiba di rumah. Jas hujan berwarna biru yang dikenakannya basah kuyup, sepatu bot berceceran lumpur.
“Hah, masih juga bersantai.” Sergahnya kala memasuki teras rumah.
“Masih hujan, bro.” Kataku menyunggingkan senyum.
“Buatkan kopi kalo gitu, belum sempat sarapan tadi.”
“Oke, masuklah ke dalam.”
“Tak usah, sini aja.”
Kutinggalkan Arief yang sedang mengangin-anginkan jas hujan dan sepatu botnya. Kami rencananya akan menuju ke ladang hari ini, mengikuti para petani padi yang akan turun semai.
Desa Sungai Cingam Kecamatan Rupat, menurut data profil desa tahun 2007, kampung berpenduduk 500 KK ini masih memiliki lahan tanam padi seluas 300 ha. Secara kasat mata di lapangan, di tahun 2015 menunjukan penurunan drastis lahan tanam padi akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan. Entah sampai kapan para petani ladang padi akan bertahan. Di setiap tahunnya penduduk desa semakin bertambah, di lain sisi lahan tanam padi semakin susut. Jika pun masih ada tanah yang dipakai untuk menanam sesuatu, maka yang tumbuh bukanlah untuk kehidupan manusia. Yang tumbuh di tanah subur itu bukan lagi tanaman pangan, tapi pohon penghasil biodiesel untuk mesin-mesin yang terancam kehabisan bahan bakar.
Tiga puluh menit yang lalu hujan telah mereda, membawa pergi gundah dan gulana. Tepat di jalan menuju pematang sawah, sebuah sepeda ontel dikayu dengan kecepatan lambat. Bukan sedang tidak buru-buru, kondisi jalan tanah memaksa seorang lelaki renta turun mengangkat ban sepeda yang terendam lumpur. Dari cara berpakaian dan alat semprot manual berwarna kuning yang ada di punggungnya, jelas dia adalah seorang petani. Lelaki renta itu menggenjot sepedanya lebih kuat, menerbangkan tanah bercampur air dari roda belakang, memercik ke bagian topi anyaman yang dia kenakan.
Bagi para petani ladang, hujan membawa berkah bagi tanah tempat mereka menanam padi. Setiap tahun hujan selalu hadir, menjadi pertanda bagi dewi sri untuk bangun dari tapa lamanya. Alam adalah kode, membutuhkan insting yang kuat untuk memahaminya. Seperti nelayan yang mengunakan bintang sebagai penunjuk arah, atau penjaring ikan yang menggunakan hitungan bulan sebagai petunjuk musim tangkap ataukah musim kelam yang tak ada ikan. Dalam bidang pertanian, juga ada pertanda yang muncul, sebagai tolok ukur turun ke ladang menyemai padi. Dalam dua gambaran pemenuhan kebutuhan hidup itu, manusia dan alam menjadi sebuah kesatuan.
Kami tiba di area ladang padi Desa Sungai Cingam. Tidak seperti persawahan pada umumnya, ladang padi hanya seperti sebuah padang rumput biasa. Tidak ada petak-petak ataupun tanggul, keberadaanya hanya ditandai dengan tanaman padi yang tumbuh di atasnya. Oleh karena tidak berada pada satu hamparan, sebagian besar ladang padi di desa ini tidak berbentuk permanen. Tahun ini ditanami padi, namun dua atau tiga tahun berikutnya bisa saja berganti tanaman karet atau sawit.
Kami singgah bercengkrama dengan petani yang kami temui, mengumpulkan data dan berdiskusi.
Di desa Sungai Cingam, “padi tahun” adalah jenis padi yang paling banyak ditanam oleh petani, umur padi itu enam sampai delapan bulan. Dalam sekali musim tanam, benih yang digunakan untuk lahan 1 Ha adalah 1 kaleng. Waktu yang paling tepat untuk melakukan proses tanam adalah bulan Juli sampai Agustus. Bila lewat masa itu tanaman padi rentan terhadap gangguan hama, utamanya hama burung yang biasanya datang bergerombol sampai ribuan ekor. Petani memanen padi tidak serentak, biasanya bulan Desember hingga Februari adalah waktu panen pertama, disusul pengambilan padi ceding di bulan-bulan berikutnya. Setelah beberapa kali mengikuti proses panen di desa Sungai Cingam, kami memperoleh data hasil panen. Setiap satu jalur menghasilkan minimal 30 sampai 40 kaleng. Jika padi sedang bagus, I Ha bisa menghasilkan padi basah sampai 200 kaleng atau satu setengah ton.
Penghujung bulan keempat di tahun 2015. Matahari baru sepenggal diatas kepala, kerja tetap para penduduk kampung, yaitu menyadap getah karet telah terlaksana. Tinggal menunggu hasil, lalu menyerahkan ke toke tuk menyangga hidup hari ini. Hampir setiap kepala keluarga di desa Sungai Cingam memiliki sepetak dua petak kebun karet. Mungkin hanya pendatang saja yang tak memiliki kebun di desa ini. Akses ke sumberdaya alam hampir sama untuk setiap orang, sepertinya hanya butuh kerja lebih keras untuk mendapat hasil yang lebih banyak. “Sepertinya” maksudku.
Selepas menoreh getah, warga mulai berduyun-duyun turun ke ladang. Walau tak serentak, namun sebagian besar warga sudah memulai aktifitas tahunan menanam padi. Letak ladang mereka berada di belakang kebun getah, rimbunnya tanaman karet hampir menutupi area bertani tersebut. Jalan lecah dan berlubang sudah menjadi langganan.
Sistem tani ladang seratus persen menggantungkan pasokan air dari langit, jadi penanaman hanya dilakukan sekali setahun. Hal tersebut salah satu pembeda antara tani sawah dan tani ladang. Jika sifat tani ladang masih tradisional, maka sifat produksi dalam pertanian modern berbalik 180 derajat. Tani sawah secara garis besar bersifat moderen. Ciri tani moderen yaitu ditunjang irigasi air, non-organik, terintegrasi dengan sistem pasar, padat teknologi, produksi massal dan intensif yang mensyaratkan ketergantungan akan modal.
Beberapa kali sudah kami turun ke ladang bersama petani, sedikit sebanyak telah pun mengenal cara bertani mereka.
Dimulai dari pembukaan lahan untuk ditanami padi. Secara khusus dalam pengerjaan lahan, ditemukan berbagai hal unik dalam hal olah tanah. Untuk lahan yang baru pertama kali dibuka, petani ladang terlebih dahulu membersihkannya. Proses ini disebut mancah atau nebas. Caranya, lokasi tanam padi dibersihkan menggunakan parang. Kemudian tunggu sisa-sisa semak belukar tersebut kering dan lahanpun siap ditanami. Biasanya dalam proses ini ada petani yang membakar lahannya agar rumput mati, tapi mengandung resiko kebakaran dan rusaknya unsur hara tanah. Bagi petani yang tidak membakar lahan, cukup menyemprotkan racun untuk mematikan rumput lalu membiarkannya terendam air. Sisa-sisa gulma yang membusuk akan menjadi makanan mikroba tanah. Rumput kering terurai menjadi bahan organik yang membuat tanah jadi subur.
Dalam pertanian sawah, setelah membersihkan dan mengolah lahan, petani kemudian menyemai bibit. Sedangkan pada tani ladang, benih langsung ditabur ke lahan. Agar terhindar dari burung, benih yang telah ditabur ditutup menggunakan tanah gembur. Sistem tabur ini peninggalan jaman dulu, pengerjaannya lebih mudah dan praktis. Adapun petani ladang sekarang ini ada juga yang menyemai bibit. Langkah yang dilakukan adalah membuat lahan semai atau tampang. Setelah bibit padi berumur dua puluh hari barulah dipindahkan. Proses pemindahan bibit semai ke lahan tanam disebut gubah. Selain cara tabur dan gubah, petani ladang juga mengenal cara tanam tugal, yaitu memasukkan benih padi ke dalam lubang. Cara ini dilakukan dengan menancapkan sebuah tongkat kayu ke permukaan tanah, lalu mengisi lubang tersebut dengan benih padi. Tugal dilakukan pada permukaan tanah yang keras, biasanya pada dataran yang agak tinggi dan tak tergenang air.
Organisme pengganggu tanaman padi (OPT), seperti wereng hampir tidak pernah menyerang jenis padi ladang. Walaupun ada, intensitasnya sangat rendah. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa serangan OPT sangat rendah pada padi ladang. Hipotesis awalnya karena daya tahan jenis padi lokal sangat bagus, resistensinya terhadap serangga tinggi. Biarpun tahan serangan serangga, tidak menjamin padi ladang bebas dari ganguan hama. Karena untuk hama berukuran besar, seperti monyet, tikus dan burung seringkali menyerang dengan efek yang luar biasa pada hasil panen.
Penyakit tanaman padi ladang, biasanya busuk pada batang ketika berumur 3 sampai empat bulan. Menyebabkan bulir padi yang dihasilkan tanaman sakit tersebut tidak berisi. Sedangkan serangan jamur jarang ditemui, mungkin jamur tidak bisa tumbuh karena lahan tidak tergenang air. Seperti yang disebutkan di awal bahwa tak ada petak-petak seperti pada lahan persawahan. Bahkan tanaman padi ladang masih bisa tumbuh di sekitar tanaman sawit yang berumur dua atau tiga tahun.
Padi yang ditanam di ladang sama sekali tidak mengunakan pupuk, baik itu pupuk kandang maupun pupuk organik. Kebutuhannya akan unsur hara hanya dipenuhi oleh tanah yang hanya ditanami sekali dalam setahun. Olehnya itu, ketika kesuburan tanah mulai menurun, ini ditandai oleh bulir padi yang dihasilkan ketika panen sudah mulai mengecil, maka petani ladang akan pindah dan membuka lahan baru. Dua atau tiga tahun kemudian baru mengunakan tanah itu kembali.
…
Awal Mei di penanggalan hari buruh internasional. Hujan deras kembali turun di Desa Sungai Cingam. Seperti sebuah adigum, mencintai musim hujan tidak serta merta membuat kita benci akan musim panas. Hukum alam senantiasa mensyaratkan perubahan, selalu ada yang berubah dari setiap musim yang berganti. Musim semai padi masih terus berlanjut. Para petani keluar dari pondok-pondok ringkih, menantang hari yang terik ataupun hujan. Genggam demi genggam benih mereka tabur, berharap semai akan tumbuh padi kecil yang akan tekun mereka rawat.
Hari sudah beranjak sore ketika kami tiba di ladang padi itu, genangan air sehabis hujan deras masih menggenang dimana-mana. Hijau telah menghampar ketika senja menyapunya dengan keheningan. Para petani ladang telah pulang mengikuti kepak sayap burung-burung petang. Sebagian orang tahu, bahwa keyakinanlah yang membuat mereka tetap bertahan. Ketika manusia lain sudah sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mereka memilih berjuang. Semangat kebersamaan dalam sambatan berpadu dengan kerjasama dan gotong royong dalam menanam padi. Semua itu memberi kekuatan ditengah ancaman rasa lapar dan ekonomi keluarga yang semakin menipis. Keyakinan telah membuat mereka menempuh jalan itu, meninggalkan orang di luar sana yang memilih kompromi dan berdiam diri. Membayang di pelupuk mataku bencana kelaparan yang suatu saat akan melanda, pada pundak petanilah kita akan bersandar untuk tetap bertahan hidup…
Catatan: -1 Ha: 3 setengah jalur -1 kaleng: 12 kg -Noreh: Kegiatan menyadap karet -Ceding: Bulir padi yang lambat masak.



Posting Komentar