Angin sore yang bertiup sepoi sebabkan gesekan daun di ujung ranting pohon. Bunyi mesin kendaraan roda dua memecah sunyi di sebuah dusun. Ridwan mengendarai motornya sedikit lebih lambat, pandangannya sesekali memperhatikan deretan rumah yang berjejer di sepanjang jalan. Rumah-rumah itu dari depan tampak berukuran kecil dan sangat sederhana. sebagian dindingnya terbuat dari anyaman bambu, atap-atapnya terbuat dari daun rumbia yang tersusun rapi.
Sudah hampir setahun Ridwan tinggal di desa ini, bekerja sebagai petugas lapangan di bidang pertanian. Saban sore, dia selalu menyempatkan diri berkeliling kampung. Aktifitas di dalam kampung lebih hidup jika matahari agak condong ke arah barat. Pekerjaan warga jualah yang menyebabkan hal itu terjadi, pergi dini hari kala matahari bahkan belum muncul, lalu pulang dari ladang kala senja akan terbenam.
Pada umumnya warga dusun ini adalah petani, sekaligus juga merangkap kerja menjadi pekebun karet. Petani dan pekebun merupakan dua profesi yang dianggap serupa tapi tak sama. Keduanya bekerja dengan medium tanah dan tanaman, namun hasilnya digunakan untuk kepentingan yang berbeda. Petani menghasilkan padi yang digunakan sebagai bahan utama mengolah dapur, sedangkan hasil kebun digunakan untuk keperluan lain di luar konsumsi. Selain petani dan pekebun, ada juga warga yang turun ke laut mencari ikan, juga bertanam sayur kala cuaca sedang baik.
Air di dalam parit berwarna kecoklatan, terpercik sinar mentari kemilau membuat silau. Di bawah sebatang pohon, seorang ibu tengah duduk bersimpuh. Kedua tangannya bergerak-gerak dengan lincah, sepertinya pikirannya sedang fokus, tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ridwan yang sedang berkeliling desa menggunakan motor butut itu tidak sengaja lewat. Melihat aktifitas yang berbeda itu, dia pun singgah.
Seorang bapak yang rambutnya sudah banyak beruban menyambut kedatangannya di dalam pagar.
“Assalamu Alaikum, sehat pak?” Pertanyaan standar basa-basi dikeluarkan Ridwan. Dia lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Waalaikum salam. Sehat…” Jawab bapak berbaju putih lengan merah itu, lalu menyambut uluran tangan Ridwan.
“Tak ke ladang hari ini, pak?”
“Hari ini libur, ada kenduri rumah saudara tadi.”
“Oh… Lagi sibuk apa ni?”
“Ini, mengerjakan atap rumah.” Jawab bapak itu sambil menunjuk ke sebuah tumpukan bambu panjang.
“Buat apa tu pak?”
“Buat tulang daun sagu nanti.” Katanya.
“Boleh melihat prosesnya nda, pak?”
“Proses apa ni?” Tanya bapak tu sambil tersenyum.
“Proses membuat atap rumah lah pak, moso’ proses masak memasak.”
Hihihi
“Boleh. Tuh ibu di sana.” Kata bapak itu lalu melanjutkan pekerjaannya membelah tanaman beruas berwarna coklat muda. Di sampingnya telah menumpuk belahan batang bambu yang akan dijadikan tulang anyaman
Ridwan melangkah lebih ke dalam, berjalan di samping rumah model klasik dari bambu dan atap rumbia. Sepasang suami istri ini hampir sama seperti tipikal warga dusun lainnya, mereka.adalah petani yang ulet dan rajin. Ridwan telah mengenalnya beberapa waktu yang lalu, mereka bertemu di sebuah ladang padi saat menanam. Salah satu karakter masyarakat yang jauh dari perkotaan adalah mereka cepat mengakrabkan diri, tidak curiga apalagi paranoid dengan orang asing. Oleh karena kelebihan karakter itu, Ridwan dan kedua suami istri ini hanya perlu waktu sebentar saja untuk menjadi kawan.
Seperti yang dikemukakan di awal, bahwa hampir seluruh warga dusun ini tiap tahunnya menanam padi, di sela itu mereka menoreh getah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun kadang kedua aktifitas itu tidak bisa menutupi kebutuhan dapur, jadi salah satu cara mendapat tambahan penghasilan adalah membuat atap dari daun sagu. Tapi tidak hanya sekedar motif ekonomi semata, membuat atap rumbia sudah menjadi warisan keahlian dari orang-orang tua mereka dulu. Ada kenangan, ada kesenangan, ada semacam hubungan aktifitas itu dengan masa lampau mereka. Wajar saja jika seorang mbah berumur 90 tahun yang pernah kutemui enggan meninggalkan kegiatan menjalin daun sagu ini.
“Selamat siang bu Yem…” Sapa Ridwan.
“Siang…mari’ ndi?” Jawab ibu Iyem sambil senyum-senyum setengah tertawa. Ibu Yem memang orangnya supel, ramah dan senang tertawa, agak gokil sikit. Hehehe
“Neng kono.” Jawab Ridwan sambil menunjuk ke ujung jalan. Dia sama sekali tidak tahu berbahasa Jawa, hanya beberapa kata yang digunakan semau jidatnya.
Ibu Iyem tertawa mendengar jawaban Ridwan.
“Oh..wes iso boso Jowo toh.”
“Wes… Wes mangan.”
Hahaha. Kami tertawa.
“Saya mau lihat cara membuat atap rumah dari daun sagu, boleh?”
“Boleh… Wani piro?”
Wakaka.
Ridwan tertawa serasa nak jungkir balek.
Hampir lima belas menit berlalu, hanya diisi obrolan tidak menentu. Ibu Iyem lebih suka membicarakan hal lain, bukan tentang aktifitas yang sedang dilakukannya. Mulai dari cerita kematian tetangganya tempo hari, cerita tentang ibu-ibu di kedai kelontong hingga kisah anak ayamnya yang diterkam biawak.
“Itu pohon sagu, ya bu?” Tanya Ridwan ketika matanya tertuju pada beberapa pohon sagu di samping rumah, sekaligus mencari celah untuk masuk ke pembicaraan tentang pembuatan atap rumbia.
“Iya.” Jawab ibu Iyem sekenanya. Tangannya terus sibuk menganyam.
“Biasanya buat apa bu, pohon sagu tu?”
“Daunnya dibuat atap, batangnya dibuat tepung sagu, pelepahnya jadi kayu bakar.”
“Seratus untuk ibu!”
Hahaha.
“Macam lomba.” Kata Ibu Iyem terkekeh.
Hingga saat ini para pakar tumbuhan masih menerka-nerka darimana asal muasal tanaman sagu. Sebagian besar ahli tanaman memperkirakan sagu berasal dari Maluku atau Irian Jaya. Alasannya berdasar penggunaan, tanaman sagu sejak lama telah dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok bagi penduduk di wilayah paling timur Indonesia itu. Zaman sebelum orde baru memperkenalkan beras sebagai bahan pangan utama bagi masyarakat di seluruh nusantara.Pohon sagu cukup mudah ditemukan di wilayah Indonesia, pada dasarnya masyarakat memanfaatkan zat tepung yang ada pada batang tanaman tersebut. Ada beberapa nama yang biasa dikenal masyarakat untuk menyebut tanaman ini. Orang Ambon mengenalnya dengan nama lapia, orang Toraja menyebutnya tabaro, kirai di Jawa Barat ataupun rabi di kepulauan Aru. Sedangkan oleh para ahli botani, tanaman sagu diklasifikasi pada ordo Spadiciflorae, dengan famili Palmae.
Beberapa kegunaan tanaman sagu antara lain:
- Dibuat olahan makanan dari ekstrak pati batang sagu
- Pelepah tanaman sagu dijadikan sebagai dinding atau pagar rumah
- Kulit dan sebagian batangnya bagus untuk kayu bakar
- Olahan patinya dijadikan lem untuk berbagai jenis kerajinan
- Daun sagu dijadikan sebagai bahan baku pembuatan atap rumah.
Sebenarnya masih ada kegunaan lain di bidang teknologi dan industri, tapi untuk diketahui oleh umum rasanya cukup itu saja, bisa berguna untuk kehidupan sehari-hari.
Di Pulau Rupat yang menurut beberapa peneliti kadar keasaman tanahnya cukup tinggi, tanaman sagu juga bisa tumbuh. Pohon sagu cukup tahan dengan derajat keasaman, bahkan tumbuh dengan baik jika PH tanah berada pada angka 5,5 sampai 6,5. Di Pulau Rupat, sagu tumbuh di daerah bergambut sepanjang aliran sungai, juga di sekitar rawa yang masih terpengaruh pasang surut air laut.
“Kalau tumpukan daun ini untuk apa, bu?” Tanya Ridwan ketika melihat sebuah onggokan daun sagu di belakang ibu Iyem.
“Itu sisa pelepah dan daun yang tidak terpakai. Biasanya jadi makanan sapi.” Jawab bu Yem lalu menoleh ke belakang.
“Kalau masih ada rumput, keringkan saja untuk kayu bakar.” Lanjutnya.
Ridwan lalu berkeliling mengamati beberapa pohon sagu itu, ada anakan hampir di setiap pohon. Budidaya tanaman sagu memang cukup gampang, bisa dengan cara generatif yaitu menaman biji yang jatuh dari induknya. Cara kedua dengan pembiakan vegetatif, yaitu memindahkan anakan yang berumur belum sampai satu tahun.
“Dipelihara nda pohon sagu ni?” Tanyaku sedikit mengeraskan suara karena jarak kami sedikit berjauhan.
“Nda lah, kadang cuma diambil anaknya untuk ditanam lagi.”
“Ada hama yang sering ganggu nda, bu?”
“Ada juga, kumbang atau ulat. Kalau yang di dekat sungai sana, anak pohon tu sering dimakan kera atau babi.”
“Ibu mencarut.” Kata Ridwan, lalu mendekat ke tempat ibu Iyem.
“Opo mencarut?”
“Itu tadi bilang ‘babi’.”
Hahaha. Ibu Yem kembali tertawa.
Kuambil kamera pocket di saku tas ransel yang kuletak di dekat ibu Iyem, lalu memotret aktifitasnya.
“Macam mana cara buatnya, bu?”
“Gampangnyo. Ambil bambu yang telah dibelah, lipat daun sagu, masukkan ke bambu, lalu dijahit macam ni.” Ibu Yem memberi contoh.
“Iya pula. Macam gampang…” Kata Ridwan lalu meminta pelepah yang sedang dikerjakan ibu Iyem.
Beberapa kali ridwan coba menjahitnya, ibu Iyem mengajarkan cara menjalin menggunkan tali dari kulit rotan muda itu.
“Perhatikan langkah bilah daun yang dirangkai, biar kuat dan bagus dipandang.” Ibu Iyem menegur melihat Ridwan yang tidak sabaran dalam menganyam.
“Biar cepat selesainya, bu.”
Hihihi.
Ridwan lalu memulangkan pelepah atap yang hampir jadi itu kepada ibu Iyem, sepertinya akan menunggu sampai magrib jika ia yang harus menyelesaikan. Lagipula daun rumbia itu ternyata tajam, menusuk kulit telapak tangan kala menjahitnya.
“Siapa yang mesan, bu?”
“Pak Nur, katanya mau ganti atapnya yang dah lapuk.”
“Biasanya tahan berapa lama ni?”
“Tergantung kuatnya daun dan jalinan. Ada juga yang kadang mesan dibuat dua lapis daun, biar tahan lama.”
“Ada juga yang mesan selain orang sini, bu?”
“Ada juga, tapi jarang lah. Ada yang mesan buat atap rumah, atap tempat pembakaran batu bata, atap gudang, atau atap kandang sapi.” Jelas ibu berbaju merah motif kotak-kotak itu.
“Mau mesan juga?” Tanyanya.
“Buat apa bu, saya tak punya rumah disini.”
“Tinggal rumah pak Awal kan?”
“Itu rumah baca bu, saya memang sering kesana, tapi tak duduk situ.”
Hehehe
“Kalau mau, dibuatkan sekarang juga ni.”
“Wuuits, baik betul ibu Yem ni…” Kata Ridwan sambil menatap ibu Yem yang berhenti menganyam, tatapannya mengundang kecurigaan.
“Gratis nih, bu?”
“Kalau orang lain harganya mahal, kalau situ harganya dua kali lipat!”
Hahaha.
Ridwan pasang muka cemberut, tapi mendengar tawa ibu Iyem yang sepuas hati, dia ikut tertawa juga.
Matahari mencentang senja dengan hangat, memberi senyum terakhirnya pada waktu.
“Sudah sore bu, saya permisi dulu.”
“Iya. Tak naik rumah dulu, minum teh?”
“Tak usah bu, saya ada urusan sikit. Bapak kemana tadi?”
“Ngajak jalan cucu, ke rumah saudara mungkin.”
“Iyalah. Salam sama bapak ya bu. Kalau panen padi nanti ajak saya juga.”
“Iya. Insyaallah.”
Jari jemari terampil itu akan terus membuat jalinan atap rumbia sambil menunggu panen padi. Sepertinya sudah sangat jarang orang yang bisa membuat atap rumah dengan tangannya sendiri. Menjahit masa lalu dengan masa kini, menjalin hubungan manusia dengan alam, memapah nilai tradisional berupa do it your self yang terus digerus zaman instant. Melalui para penjahit rumbia, mudah-mudahan generasi kini yang hobi memotret diri sendiri, bisa belajar bagaimana hidup yang mandiri.




Posting Komentar