Warna Warni Rupat Utara

“Janganlah terbang terlalu rendah, karena sayapmu bisa basah oleh air laut. Jangan pula terbang terlalu tinggi, karena sayapmu bisa terbakar oleh matahari.”

Pasir-pasir putih tenggelam, sebagian butiran hanyut dibawa air pasang. Karenanya tidak ada cara lain, pelaut itu harus menggunakan sampan. Hati kecilnya terus berharap untuk dapat sampai ke makam manusia bersayap. Ketika pelaut kurus itu telah berada di keheningan makam, lalu menangis sesenggukan. Ia seperti dapat melihat manusia bersayap yang terbang hingga ke batas langit itu. Kedua bahunya melepuh akibat sinar matahari membakar kedua sayapnya. Sayap berkilau yang kuncup dan mengembang seirama degup hasrat yang tak tertahan. Sepasang sayap bulu putih yang membawanya terbang lalu terhempas jatuh diamuk laut.

Kutersadar sejenak. Hari masih terlalu pagi dan aku sudah berkhayal tentang sebuah kisah legendaris manusia bersayap. Kulihat sebuah perahu kecil sedang keluar dari bibir pantai. Di atasnya dua orang lelaki berkulit gelap tengah mempersiapkan mesin motor yang menempel di belakang perahu. Pria bertopi caping itu lalu memandangi lautan, matanya tajam seperti hendak bertarung. Sudah lama aku tidak melihat mata setajam itu, mata manusia-manusia lain sepertinya sudah terlalu lelah untuk berpijar.

Mata bisa berbicara. Orang-orang bisa saja bilang kehidupan mereka tidak bahagia, jauh dibawah tapal batas kemiskinan. Namun pancaran mata seperti itu sungguh akan sangat jarang kau dapatkan. Semenjak manusia dipisahkan dari tanah dan lautan, hidup tidak lagi banyak memberi pilihan. Pabrik-pabrik itu telah memaksa manusia menjalani hidup dengan rutinitas yang membosankan.

Pantai Teluk Rhu yang sendu,  sudah banyak yang menulis kisah tentang pantai ini. Kehadirannya begitu iconik hingga menjadi representasi dari pulau Rupat itu sendiri. Mentari bisa saja sepuhkan sinar di pohon-pohon pinus Pantai ketapang, namun Teluk Rhu sudah kadung ramai dibicarakan orang. Garis pantainya memanjang 15 kilometer dengan bentang pasir puluhan meter jika laut surut. Sudah tak terhitung jumlah kapal laut yang karam dihantam angin dan gelombang lautnya.

Rupat Utara adalah kecamatan dimana pantai Teluk Rhu berada, secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Keunikan adat budaya suku melayu asli dan suku akit terasa kental dalam kehidupan harian masyarakatnya. Hal tersebut juga tercermin dalam beberapa bangunan  di atas tanah Rupat Utara. Sambil menikmati foto-foto yang pernah kuambil, akan kuceritakan pengalamanku berkunjung di daerah penghasil ikan laut terbesar di pulau Rupat ini.

Kecamatan Rupat Utara dapat terjangkau melalui jalan darat dan melalui pelayaran laut. Ibukota Kecamatan, yaitu Tanjung Medang berjarak 90 km dari ibukota kecamatan Rupat (Batupanjang). Pertama kali menjajal jalan darat menuju ke Rupat Utara, hanya ada satu dalam pikiranku. “ Kapan kita akan sampai?” Kondisi jalan yang buruk memaksa motor hanya sampai pada kecepatan 40-60 km/jam. Itu belum lagi jika mendapati jalan berlumpur, naas nian nasib pengendara roda dua. Lain halnya jika kita menggunakan transportasi laut, tenaga tidak banyak terkuras dan waktu tempuh relatif lebih cepat. Namun dengan track record kapal speed yang sering bermasalah, orang-orang lebih memilih lewat darat untuk lebih amannya. Dari pelabuhan Tanjung Medang, speed akan memutar melalui sisi barat pulau Rupat, singgah sejenak di muara sungai Titi Akar untuk mengambil penumpang lalu lanjut ke Kodya Dumai.

Sampai pada tahun 2014, Kecamatan Rupat Utara sudah melakukan beberapa pemekaran Desa. Tapi secara defenitif, hanya ada lima desa yang terdaftar resmi, yaitu Desa Titi Akar, Tanjung Medang, Teluk Rhu, Tanjung Punak dan Kadur. Desa dengan kepadatan penduduk tertinggi berada di Tanjung Medang, sedangkan kepadatan terkecil berada di desa Tanjung Punak. Pemekaran desa telah terjadi, walau kepala pemerintahan masih dipegang oleh pejabat sementara, yaitu desa Kadur menjadi dua, putri sembilan, desa titi akar menjadi hutan ayu dan   

Keadaan topografi Rupat Utara adalah hamparan datar dengan luas wilayah 628,50 km2. Desa terluas dalam kecamatan Rupat Utara adalah desa Titi Akar dengan luas 300 km2 atau sebesar 47,73 % dari luas keseluruhan kecamatan. Sedangkan untuk desa terkecil adalah desa Tanjung Punak dengan luas 66 km2 atau 10,5 % dari luas keseluruhan. Dua kecamatan di Pulau Rupat tercatat hanya memiliki ketinggian maksimal 2 m di atas permukaan laut. Hal yang menjadi masalah ketika terjadi pembangunan, maka tanah timbunan harus didatangkan dari luar menggunakan kapal. Mungkin salah satu alasan mengapa pembangunan selalu terlambat di pulau ini.

Hampir seluruh desa yang ada dalam wilayah Rupat Utara berbatasan dengan pantai, laut atau pesisir. Di sebelah utara, timur dan barat berbatasan dengan Selat Malaka, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Rupat. Pantai pasir putih berada di desa Teluk Rhu, Tanjung Punak dan Kadur, sedangkan desa lainnya pantai berlumpur dengan hutan bakau yang tumbuh menghijau di atasnya. Mungkin karena berbatasan dengan pesisir, maka mata pencaharian warga sebagai nelayan masih banyak kita jumpai. Baik itu menggunakan sampan, perahu tempel maupun kapal besar, masing-masing menggunakan alat tangkap yang berbeda. Konsentrasi utama usaha perikanan tangkap berada di ibukota kecamatan Rupat Utara, hampir seluruh nelayan di pulau Rupat melakukan perdagangan ikan di Tanjung Medang.

Perkebunan karet dahulunya mendominasi sektor perkebunan di Rupat Utara, namun seiring naiknya pamor tanaman sawit, pekebun beralih fungsi. Mulai dari hutan, kebun-kebun karet hingga ladang padi ditanami sawit. Di jalan perusahaan menuju ke desa Titi Akar juga nampak perkebunan akasia, kayunya dibuat menjadi bubur kertas. Memang sektor pertanian padi masih ada, namun jumlahnya kian mengecil dengan konsentrasi utama di Desa Titi Akar. Para petani menggunakan sistem sawah tadah hujan, penanaman sekali setahun dengan varietas bibit lokal.

Itulah sekelumit tentang Rupat utara, beberapa gambar bangunan yang disajikan dalam tulisan ini menggambarkan pembangunan sudah menyentuh beberapa bagian wilayahnya. Tapi sekali lagi, aspek pembangunan fisik seringkali menutupi masalah sesungguhnya. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia kadang kala kurang mendapat tempat di hati para perencana negeri. Bukan untuk mencari-cari kesalahan ataukah mengkambing hitamkan para perencana. Keganasan zaman memang sudah tidak terelakkan, kini tinggal memunguti sisa-sisa dari serpihan yang ada.

Senja membayang di belakang pucuk-pucuk daun kelapa. Manusia bersayap tidak hanya mendapati sayap-sayap patah, tapi juga mata yang kehilangan keperkasaan. Pelaut kurus turun dari sampan yang membawanya sampai ke makam, dia lalu bersimpuh menghadap ke teluk. Tatapannya nanar memandang jauh ke batas cakrawala. Sebagian orang tahu kekalahan manusia bersayap begitu wangi, tapi mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir serupa bidadari?

Posting Komentar