Resensi Film: Kisah Sukses Para Pengelola Kolam



Judul : Kisah Sukses Para Pengelola Kolam
Durasi : 20 menit 40 detik
Tahun terbit : 2013
Produksi : Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kab. Bengkalis
Peresensi : Ibnu Sabil

Akhir bulan November tahun 2013, di sebuah kota besar di Amerika Serikat telah berlangsung sebuah pertemuan antar negara. Di markas besar PBB kota New York, sebuah deklarasi “International Year of Family Farming” dicanangkan. Sebuah konsolidasi internasional yang akhirnya memutuskan bahwa tahun 2014 ditetapkan sebagai “Tahun Internasional Usahatani Keluarga”. Dipimpin langsung oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), tujuan dari kampanye ini adalah untuk meningkatkan profil pertanian keluarga dengan memfokuskan perhatian dunia pada perannya dalam mengurangi kelaparan dan kemiskinan.

Secara sederhana, usahatani keluarga yang dimaksudkan adalah usaha berbasis pertanian yang dikelola bersama dengan memanfaatkan potensi anggota keluarga dan lingkungan sekitar rumah. Jenis usaha tidak terbatas pada tani padi, tapi juga sektor hortikultura, ternak, ikan dan bahan pangan lainnya.

Tidak se-spektakuler acara American Idol memang, namun pencanangan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran berbagai negara akan besarnya potensi usaha tani keluarga dalam upaya mencapai ketahanan pangan dunia patut didukung. Hasil keputusannya pun tak sepopuler polling acara musik tersebut, tapi kegunaan deklarasi ini tentunya lebih besar. Manfaat usaha tani keluarga nantinya bisa menambah penghasilan keluarga, selain itu konsumsi pangan keluarga juga ikut terpenuhi. Jika berhasil meningkatkan mata pencaharian, maka bisa menekan jumlah kemiskinan di pedesaan sekaligus melindungi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Oke, keputusan itu diambil di Amerika Serikat, jauh dari bumi tempat kita berpijak. Kita kembali ke Bengkalis…

Ada sebuah film dokumenter yang yang diproduksi oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kab. Bengkalis bekerja sama dengan CV karya utama. Film yang dirilis di tahun yang sama dengan pencanangan tahun usaha tani keluarga tersebut. Film ini memberikan tambahan pengetahuan, gagasan dan penyuluhan kepada khalayak ramai untuk melakukan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pemanfaataan lingkungan sekitar rumah untuk sebuah usaha budidaya, memelihara ikan melaui media kolam. Baik itu kolam tanah, alas terpal, maupun beton.
Film bersampul ratusan ikan lele yang sedang dipanen ini diawali oleh narator dengan menjelaskan monografi Kabupaten Bengkalis. Mengenai jumlah penduduk, batas kabupaten, potensi daerah, dsb. Setelah itu ada narasi tentang Badan Ketahanan Pangan yang dibawakan kepala BKP, Ir. Muhammad Fauzi. Kita lalu dibawa ke Balai Benih Ikan Kab. Bengkalis bersama Bapak Rimos, kepala balai. Seorang tenaga teknis di balai benih tersebut bernama Ramdani menjelaskan mengenai proses pemijahan ikan.

Sebenarnya membingkai pengetahuan dan pengalaman melalui film adalah sesuatu yang berani. Sebab membutuhkan modal besar, ketekunan dan kerja keras yang lebih, daripada melalui media cetak. Bukannya menyepelekan tulisan dan poster, itu juga penting. Namun selama ini telah banyak beredar di masyarakat. Maka upaya membuat film sebagai media kampanye adalah sesuatu yang patut diapresiasi.
Film terus berlanjut, mencoba memberikan kita motifasi untuk menekuni usaha ikan dalam kolam. Melaui cerita sukses usaha kolam ikan lele Pak Sudiri. Ada juga kisah pemilik sentral pelatihan budidaya ikan air tawar di Kec. Duri bernama Irham. Tak mau ketinggalan untuk berbagi pengalaman, seorang pelaku usaha pengolahan ikan salai lele bernama Ilham. Yang terakhir, kelompok tani perikanan di Kecamatan Mandau menutup film ini. Nurmuhammad, anggota kelompok tani tersebut menjelaskan cara membuat probiotik untuk pakan ikan.

Deklarasi usaha tani keluarga oleh negara-negara yang tergabung dalam perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan arahan secara jelas. Setiap keluarga dalam sebuah wilayah negara sebaiknya mendukung pemerintah dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan mandiri. Khusus sektor perikanan, usaha untuk menambah produksi dilakukan dengan budidaya kolam ikan yang dikelola keluarga. Hal tersebut sepatutnya didukung bersama, sebab kita semua merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri.

Dalam upaya menyebarkan ide tersebut, ini adalah sebuah film dokumenter yang bagus. Walau pada judul sebaiknya sedikit ditambah, menjadi “Kisah Sukses Para Pengelola Kolam Ikan”, agar kita langsung tahu kolam apa yang dimaksudkan. Adapun kelebihan film ini adalah mendatangi langsung para narasumber untuk dimintai keterangan. Isi wawancara cukup baik, tapi masih menyisakan beberapa pertanyaan. Misalnya bagaimana untuk memulai usaha ini, berapa modal yang dibutuhkan, cara membangun kemitraan, dan hal-hal praksis lainnya.

Film yang berdurasi cukup pendek ini memberikan satu hal yang menarik. Sesuatu yang jika ditelaah lebih mendalam, justru bisa membuat miris para penonton. Bagi sebagian orang yang selama ini menjadi konsumen pasif, yang hanya jadi penonton dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Mereka yang tidak pernah mau tahu dari mana datangnya beras, sayur, dan ikan di atas meja makan. Maka motivasi dalam film ini bisa saja berubah jadi sebuah sindiran: Jadilah pelaku, jangan hanya jadi penonton…

Posting Komentar