Efek Rumah Kaca di Pulau Rupat


Tipis ozon berlubang, debu kosmik hujan asam
Matahari tak bertirai, bunga-bunga tak mekar
Wajah bumi menangis, sedang kita tak mengerti
Kita akan terbakar, kita akan wariskan untuk anak dan cucu kita

Hari kedua Ramadhan. Subuh baru saja terlewati, mentari pagi sedang merekah di ufuk timur. Lagu ‘Efek Rumah Kaca’ itu mengalun dari speaker kecil di ruang kerja pos penyuluh pertanian Pulau Rupat. Aku bersenandung kecil sambil mempersiapkan keperluan lapangan, seperti tas, sepatu, jaket, topi dan alat tulis menulis. Hari ini tidak membawa air minum dan cemilan, karena sedang puasa. Setelah semua ready, aku memeriksa gas dan kompor di dapur, cucian di jemuran, air pada sumur, serta memberi makan si pus-pus belang. Tak ada masalah. Kutancap gas si billy blue, motor bergincu merah itu ke arah Kelurahan Tanjung Kapal.

Efek rumah kaca sudah menjadi isu global beberapa tahun terakhir, yaitu meningkatnya suhu permukaan bumi akibat panas matahari yang tak terserap sepenuhnya oleh bumi. Sebagian orang mengira ini adalah fenomena alam, namun sejatinya karena ulah manusia jualah yang menjadikan bumi ini semakin panas. Rentetan emisi karbon dioksida dari kendaraan yang sudah tak terhitung jumlahnya, limbah pembuangan dan asap pabrik-pabrik industri yang bekerja tak kenal siang dan malam, penggundulan hutan yang tak kenal ampun, daerah rawa dan resapan air sudah habis akibat pembangunan pemukiman, jalan dan pertokoan.   

Efek rumah kaca (ERK) juga merupakan identitas sebuah grup musik tanah air, band beranggotakan Cholil (vokal/gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum). Band ini menjadi pemecah kebuntuan pecinta musik yang ingin mendengarkan lagu keren dengan lirik yang cerdas. ERK salah satu band yang sukses memadukan kedua hal itu,  musiknya enak-liriknya bermutu. Termasuk lagu bertitle sama dengan nama band, ‘Efek Rumah Kaca’ yang liriknya membuka tulisan ini.

Klentang-klentong, Klentang-klentong, Klentang-klentong.

Ibu Pagiyem menarik tali panjang yang menyebabkan kaleng-kaleng kosong di tengah sawah saling bertumbukan. Ibu bertubuh gemuk itu berharap bunyi kaleng akan menakuti burung-burung pemakan biji padi yang mengganas di pagi dan sore hari. Sawah-sawah petani di sini telah sering menjadi korban teror burung-burung tersebut. 

Hampir semua petak-petak sawah di Kel. Tanjung Kapal dilanda kekeringan, hamparan sawah di parit I dan parit II itu tanahnya pecah-pecah dan sebagian besar ditumbuhi rumput dan ilalang. Ada ratusan hektare lahan yang biasa ditanam padi di sini, namun tahun ini sebagian besar gagal semai, sebagian lagi memang belum pernah diolah karena musim kering yang berkepanjangan. Sawah di tanjung kapal ini satu-satunya area bercocok tanam padi di Pulau Rupat yang bisa panen dua kali dalam setahun, tapi melihat kondisinya yang mengenaskan, panen sekali tahun ini sudah bagus.

Di tengah sawah yang sedang dilanda kekeringan itu, aku bertemu dengan seorang ibu bernama Pagiyem. Tanah sawah Ibu Iyem, begitu biasa dirinya dipanggil, berada di Parit II, kebetulan dekat dengan pipa sumber air, maka dia bisa bercocok tanam, hanya luasnya tidak lebih dari satu jalur.

“Tahun ini banyak yang tak nanam padi, tanah sawah kering.” Keluhnya Ibu Iyem setelah kami berkenalan.

“Kenapa bisa gitu, Bu?”

“Tak ada air hujan, saluran air itu ada, tapi air yang keluar hanya sedikit.”

“Jadi gimana nasib petani yang lain, Bu?”

“Tunggu habis puasa ini, kalau ada hujan mungkin bisa nyemai lagi. Tapi kalau tak ada hujan, memang tak ada hasil tahun ini.”

“Dari ujung sana memang tanahnya retak-retak, Bu” Aku menunjuk ke ujung areal persawahan yang tadi kulewati.

“Iya, kering betul. Karena tanah sini keras, waktu nanam padi ini, saya pakai tugal, padahal biasanya cuma pakai tangan.”

“Gimana kira-kira dengan hasil panennya, Bu?”

“Tak usah cerita panen, tanah yang ibu tanami ini cuma satu jalur. Bulir yang keluar kecil, belum lagi yang dimakan burung. Karena area tanam kecil, burung-burung itu berkumpul di sini. Kalau tak dijaga ya memang habis, di Parit I depan sana tu ada dua hektare padi yang habis dimakan burung.”

“Jadi kira-kira berapa bu, hasil padi satu jalur ini?” Tanyaku sedikit memaksa agar Ibu Iyem menyebut angka yang bisa kukira-kira.

“Paling banyak 10 goni.”

“Parah betul bu, saya dengar biasanya petani sini bisa panen 40 sampai 50 goni.”

“Itu kalau cuaca sedang bagus, banyak air. Ini memang susah.”

            Kutinggalkan ibu Iyem yang sedang bekerja keras menghalau burung dari sepetak sawah kecil itu. Kujalankan motorku dengan pelan, sambil sesekali turun untuk mengambil foto. Tidak jauh beda dengan lahan tanam padi di desa-desa lain, seperti Makeruh, Cingam dan Hutan Panjang, semua mengalami kekeringan. Sesuai peringatan BMG beberapa waktu yang lalu, bahwa Riau kembali akan dilanda kekeringan panjang sampai bulan Desember mendatang.

Heya… Heya… Heya…

Seorang nenek bertubuh kecil sedang mengusir burung dengan tongkat bambu yang diberi kantong plastik hitam di ujungnya. Digerak-gerakkan bilah bambu itu sambil teriak melengking, agar burung yang mengerumuni padinya terbang menjauh.

Heya… Heya… Heya…

“Selamat Pagi Bu, apa kabar?” kataku ketika sampai di dekat nenek itu.

“Baik.” Katanya terkejut.

“Kenapa Bu, kaget nampaknya.”

“Iya, Mak kaget, kira siapa yang ngomong.”

Hahaha. Kami berdua tertawa.

“Belum Panen, Mak?”

“Yang sebelah sana sudah kemarin, yang satu petak ini belum. Adek ini siapa?”

“Saya penyuluh pertanian di sini.”

“PPL?” Tanyanya.

“Iya. Ganteng kan Mak.”

Hahaha. Mak tu gelak.

“Iya Pula. Kira Mak, PPL di sini anak perempuan kecil-kecil tu, yang sering kemari.”

“Oh, Mak kenal?”

“Iyalah, biasa datang sini kok. Tapi lupa namanya.”

“Irdayanti, Mak.”

“Oh iya, Yanti.”

“Dulu PPLnya Yanti, Mak. Tapi sekarang ni, satu Pulau Rupat ni, PPLnya saya semua.”

“Moso’ Iyo.” Mak nyengir, aku tepuk jidat.

Hihihi

Ibu Sujana, nenek berusia senja yang masih sanggup turun ke sawah bersama suaminya tercinta. Mereka mengawal dua petak lahan padi yang hampir sama besar di tepi jalan parit I. Ada yang lucu dari kedua petak lahan tersebut, masing-masing di pasang kelambu agar burung tak masuk.

“Kalau tak dipasang kelambu macam ni, habis padi kami dimakan burung. Ini aja dah dipasang jaring masih masuk juga” Keluhnya.

“Iya, Mak?”

 “Iya. Tak main-main. Sawah sebelah ni, habis tak bersisa karena tak dijaga. Kemarin dah mak bilang, nanamnya di dua petak dekat salur air itu. Biar pendek, jadi senang jaganya. Tapi orang tu tak mau, katanya biar memanjang di tepi jalan aja, lebih senang mengawasi. Nah sekarang, habis dimakan burung.” Kata Mak Sujana berapi-api.

Heya… Heya… Heya…

Mak Sujana teriak lagi sambil mengayunkan senjata bambunya. Gerombolan burung di tengah sawah itu seketika terbang, namun sebentar kemudian datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Aku mengikutinya dari belakang, sambil mengambil foto sawah.

“Di Parit ini yang nanam padi tak lebih dari sepuluh petak. Ada yang gagal semai, ada yang tak dipindah karena lahan tu kering, ada yang dimakan burung. Banyak cobaan tahun ni, biasanya bulan 2 (Februari) sampai bulan 5 (Mei) tu sekali panen, habis lebaran nanti turun semai lagi. Jadi setahun ada dua kali panen, tapi tahun ni gagal total.”

“Banyak lahan yang kosong Mak, ditumbuhi ilalang.” Kataku sambil memotret emak.

“Iya, Tahun ni banyak yang tak ladang, airnya tak ada. Sawah sebelah ini gagal total karena kurang air. Padinya tak ada isi. Lebih tiga jalur ni, rusak semua.” Katanya sambil menunjuk ke sebuah petak sawah. Kuambil bulir padi yang masih tersisa di situ lalu memencetnya dengan dua jariku, memang kosong.

            Saking sedikitnya petani yang menanam padi tahun ini, tidaklah sulit membedakan sawah yang ditanami padi dan petak mana yang berisi ilalang. Kerumunan burung dan kelambu dari jaring ikan itu menjadi tanda. Kupandangi sekeliling area persawahan Tajung Kapal ini, secara visual bisa diterka yang menanam padi. Hanya sedikit.

Sudah seminggu ini, helikopter dan mobil Dalmas Polisi hilir mudik mencari titik api di Pulau Rupat. Dalam perjalanan dari Rupat bagian tengah saja tidak kurang tiga kali kubertemu petugas pemadam kebakaran dan polisi. Sepertinya ada instruksi khusus dari pemerintah untuk lebih intens mengawal kekeringan panjang yang melanda tahun ini. Namun itu untuk pencegahan pembakaran lahan, utamanya tanaman perkebunan. Dalam hal menjadi produksi beras tahun 2014, belum ada tindakan khusus untuk persawahan di Pulau Rupat.

Sekali lagi ini adalah ulah manusia, bukan fenomena alami seperti yang didengungkan selama ini. Maka bencana kekeringan panjang seharusnya bisa dicegah, ketika setiap orang berpartisipasi di dalamnya. Namun bukan hal yang gampang untuk menghentikan kegilaan industri, tambang minyak, menyetop pembangunan infrastruktur perkotaan, mencegah perusahaan menghabisi hutan untuk tanaman sawit dan akasia, dan lain sebagainya. Itu semua sungguh memerlukan usaha dan kerjasama semua elemen masyarakat.

Alam yang dibabat habis akan mengobati dirinya sendiri, apakah itu dalam waktu yang lama, seperti perubahan iklim secara global ataupun melalui kiriman bencana yang seketika. Bisa jadi juga kombinasi keduanya, sebab alam tidak milih kasih siapa yang merusak ataupun yang menjaganya. Pukul sekali rata. Generasi raksasa beribu tahun lampau pernah merasakan hal itu, dinosaurus yang dipunahkan oleh alam itu sendiri, apatah lagi manusia yang sekecil ini.

Hari sudah siang, kupacu motorku pulang. Sesampai di posko, kurebahkan badan di ubin yang dingin. Mata tak jua mau tidur, jadi kusetel lagu pada laptop. Melalui speaker kecil itu, keluar suara Cholil yang melengking-lengking nyanyikan lagu efek rumah kaca.

Daun-daun berlubang, tak berputar energi
Wajah bumi menangis, sedang kita tak mau mengerti
Kita akan terbakar, Kita akan terbakar, Kita akan terbakar..!

Posting Komentar