Tujuan filosofis penyelenggaraan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Kebutuhan akan tersedianya pendidikan demi mencapai tujuan tersebut adalah mutlak adanya. Dalam tingkatan tertinggi kesadaran manusia, pendidikan dapat mendorong manusia untuk memahami persoalan disekitarnya dan menyiapkan diri untuk mengubahnya.
Guru merupakan figur yang berperan penting dalam proses belajar mengajar. Dalam menghadapi nilai-nilai kultur dominan yang menyerang kita, peran guru sangat dibutuhkan. Guru dalam perkembangannya telah bertransformasi dari hanya sekedar wadah air yang mengisi kepala murid-muridnya di ruang kelas, menjadi seorang yang membangun proses penyadaran murid melalui pemahaman akar realitas sosial.
Guru dituntut untuk kreatif dalam bidangnya, memadukan unsur kreasi di dalam dirinya dengaan kondisi lingkungan. Proses kreatif tersebut akan memunculkan perpaduan teori dan praktek dengan hasil akhir sebuah pengajaran yang kritis. Zaman pendidikan kritis adalah antitesa dari pendidikan warisan penjajah dahulu. Jika dulu guru melihat murid seperti kertas polos yang harus diisi, maka sekarang guru melihatnya sebagai sebuah subjek aktif yang bisa dengan mandiri menemukan jalan menjadi manusia seutuhnya.
Peran guru sebagai tenaga pendidik dalam aktifitas belajar mengajar di pulau terluar Indonesia sangatlah besar. Oleh karena itu kami menuliskan kisah sosok guru di pulau yang baru beberapa tahun belakangan melepas status terpencil dari namanya. Seorang ibu yang telah hampir seperempat abad mengabdikan dirinya sebagai guru Sekolah Dasar di Rupat Utara.
Kisah Seorang Guru Perempuan Di Pulau Rupat
Nama saya Syawaliah. Menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Saya lahir di sebuah pulau dengan pasir putih yang menghampar di antara pecahan kulit-kulit kerang. Saat malam tiba, air pasang yang naik ke garis pantai akan memantulkan cahaya rembulan bagai manik-manik cantik.
Saat kecil, saya berada tengah kondisi masyarakat yang belum memperhatikan mengenai pendidikan anak-anak mereka. Selain karena fasilitas yang tidak memadai, mereka juga masih menganggap bahwa anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi.
Saya sudah membulatkan tekad untuk terus bersekolah. Keinginan untuk menggapai cita-cita saya menjadi seorang guru sangat besar. Setelah menamatkan SMA, saya berangkat ke Bengkalis dengan ongkos yang tidak seberapa. Di sana saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Keguruan (SPG) Kabupaten Bengkalis.
Beberapa kali hampir putus sekolah di tengah jalan karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, saya terus berjuang untuk menyelesaikan pendidikan. Melihat kesungguhan saya dan kerja keras saya untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, orang tua saya yang tadinya kurang setuju untuk menyekolahkan, akhirnya luluh juga. Penghasilan mereka yang tidak seberapa dikirimkan untuk keperluan kuliah saya.
Segalanya serba berat, suka duka menjalani pendidikan keguruan mengajarkan saya bersabar dan berusaha menghidupi diri sendiri. Selama tiga tahun, saya mengontrak rumah yang jauh dari sekolah. Setiap hari, saya harus berjalan kaki sejauh 2 km untuk sampai ke sekolah. Untuk pulang ke kampung, perjalanan harus menempuh bermil-mil jalur laut dengan angkutan perahu penumpang.
Akhirnya saya menamatkan sekolah pendidikan keguruan pada tahun 1988. Dari tempat menimba ilmu di Kabupaten Bengkalis, saya memilih untuk pulang membangun kampung saya. Tujuannya cuma satu, saya ingin membangun dunia pendidikan di pulau yang membesarkan saya.
Pulau Rupat merupakan salah satu dari pulau terluar Indonesia, berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Saking dekatnya, anak-anak kecil dulunya lebih mengenal perdana menteri dan tuan agung Malaysia, daripada Presiden Republik Indonesia. Salah satu sebabnya radio dan televisi jaman dulu hanya menangkap siaran Malaysia.
Pulau Rupat masuk dalam wilayah Provinsi Riau, negeri lumbung minyak. Namun begitu, mungkin karena jaraknya sangat jauh dari pusat pemerintahan dan juga minim transportasi, maka pulau Rupat dulunya kurang mendapat perhatian.
Sekolah itu berdinding papan, sudah lapuk termakan usia. Walau atapnya sudah terpasang seng, namun bocor di sana sini. Jika kering, cahaya matahari akan masuk melalui bocoran seng tersebut memberi sedikit penerangan di ruang kelas. Namun lain halnya jika hujan mengguyur, kursi dan meja murid yang tidak seberapa akan basah. Murid-murid bertelanjang kaki itu harus menghindar dulu ke tepi, menunggu hujan reda.
Di tahun-tahun pertama saya mengajar, transportasi menjadi kendala utama di Pulau Rupat. Kondisi jalan setapak dari tanah, hampir tak bisa dilalui kala hujan. Ada suatu hal membuatku terharu, kenangan yang masih terus teringat sampai saat ini.
Pada suatu pagi ketika hujan mengguyur, seorang bapak menggendong anak gadis kecilnya masuk ke dalam kelas. Katanya karena air pasang, dia harus menyeberang sungai demi mengantar anaknya ke sekolah. Dia menerobos lebatnya hujan menggunakan sampan, agar si buah hati bisa mengenyam pendidikan.
Hanya ada lima orang guru di tahun 1989, dibantu beberapa tenaga sukarela dengan gaji 25 ribu sebulan. Di tahun itulah saya masuk untuk membantu mengajar di SD 04 Tanjung Medang. Statusnya sukarela, istilah populernya tenaga honorer. Tetapi jangan bandingkan dengan kondisi tenaga honorer saat ini. Zamannya berbeda, kami dulu belum mengenal istilah K1 atau K2, hampir tidak ada jaminan untuk masuk ke pemerintahan dan digaji lebih layak.
Kita selalu senang melakukan sesuatu jika kita mencintainya. Begitupun saya, karena kecintaan akan dunia pendidikan, dunia anak-anak kecil yang baru mulai belajar menimba ilmu, saya tetap mengajar. Pada malam hari, ketika semua orang terlelap tidur, saya mempersiapkan kebutuhan mengajar. Satuan pembelajaran, materi dan media mengajar yaitu kapur tulis.
Pulau Rupat di tahun tersebut belum masuk listrik, hanya lampu sumbu yang menerangi. Paling bagus warga hanya memiliki lampu strongkeng yang menyala terang ketika dipompa. Mata harus bekerja lebih keras untuk membaca PR ataupun hasil ulangan siswa. Kami baru menikmati listrik 24 jam di tahun 2014. Terlepas dari semua keterbatasan, justru di tahun-tahun awal mengajar itu saya sangat bersemangat. Umur masih muda, urusan mengajar bukan melulu tentang uang dan gaji, tapi bagaimana anak-anak pulau bisa menjadi anak yang pintar.
Jalan setapak itu menjadi saksi, dipagi hari ketika berangkat mengajar, saya harus menjinjing sepatu, murid-murid kami hampir semua bertelanjang kaki. Anak-anak kumal yang begitu bersemangat belajar bersama kawan-kawannya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada suku melayu, suku batak, suku akit dan suku jawa. Begitupun dengan agama dan kepercayaan mereka yang sebagian besar mengikuti agama orang tuanya. Saya tidak pernah membeda-bedakan, bagi saya mereka adalah anak-anak saya sendiri.
Bersama dengan tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah dan orang-orang yang mencintai dunia pendidikan, kami membangun sekolah dengan penuh kesabaran. Bukan hanya menggesa pembangunan sarana belajar mengajar, tapi juga membangun jiwa dan semangat anak didik kami.
SD 04 Tanjung Medang sekarang telah berganti nama menjadi SD 2, sekolah samping pasar lama itu kini telah berdinding semen. Seiring perubahan status kampung kami menjadi kecamatan di tahun 2001, akhirnya nama sekolah kamipun berganti menjadi SD Negeri 2-Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara.
Saat ini, nasib pendidikan di pulau kecil dan terluar Indonesia ini sudah semakin baik. Berkat kerja sama masyarakat, guru dan pemerintah, kelengkapan fasilitas sudah memadai. Anak-anak di sekolah kami sudah bisa menikmati informasi dari buku-buku sejarah di perpustakaan, mengikuti kegiatan pramuka, belajar di kelas yang atapnya tak lagi bocor.
Kami para guru dan warga sekitar sekarang bisa sering bertemu, karena telah ada kantor dan aula pertemuan. Begitu pula dengan kelengkapan mengajar dan alat tulis menulis, sudah cukup lengkap. Kami menyadari bahwa bukan saya sarana fisik yang penting bagi kelanjutan dunia pendidikan, namun juga pembangunan mental dan karakter.
Sungguh menyenangkan melihat gerombolan anak-anak kecil itu melangkahkan kakinya ke sekolah. Anak-anak pulau Rupat, anak-anak bangsa Indonesia. Tugas kamilah untuk menjaga agar semangat mereka tetap ada…
Nama: Syawaliah, S.Pd.SD
Tempat, tgl lahir: Tanjung Punak, 10 Desember 1968
Sekolah Tempat Tugas: SD Negeri 2 Tanjung Medang-Rupat Utara
Tiga pelatihan yang pernah diikuti:
- Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Nasional Penulisan dan Analisa Butir Soal Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pekanbaru 2009.
- Pelatihan Tematik Guru KelasI,II dan III SD/MI, Kab. Bengkalis 2010.
- Pelatihan Guru Gampang, Asyik, Menyenangkan (PGASING), Pekanbaru 2012



Posting Komentar