Pos Penyuluhan Pertanian Desa

Matahari baru saja merekah di ufuk timur ketika aku menjejakan kaki di pondok lapuk itu. Tanpa banyak basa-basi, kuambil sapu ijuk yang tergeletak di lantai rapuh. Lantai papan yang mengeluarkan berdecit hebat kala terinjak kaki, papan-papan itu telah uzur dan dimakan rayap. Sesekali kuarahkan gagang sapu ke atas untuk membersihkan sarang laba-laba.

Tidak ada yang membantu, karena memang sengaja kudatang sendirian, tanpa mengabarkan ke kawan-kawan yang lain. Hampir sebulan aku tidak ke sini, waktu yang sangat lama, jadi sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya, Pos Penyuluhan Desa (Posluhdes).

Pintunya depan tidak berkunci, hanya pengait dari kayu yang menahan agar tidak terbuka. Setiap orang bisa membuka pintu dari luar, setiap orang yang ingin membaca buku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab jika ingin mengambil sesuatu yang bisa dijual kembali, sebaiknya ke tempat lain saja. Jendela rumah juga tak berkunci, hanya sebuah paku besar yang menahannya agar tak terbuka kala tertiup angin.

Terdapat dua kamar di dalamnya, namun lebih parah, tidak memiliki daun pintu sama sekali. Debu menempel dimana-mana, sarang laba-laba bergelantungan di tiap pojok rumah. Kata pemiliknya, sudah hampir setahun rumah ini tidak ditempati. Kami meminjam dan mengubahnya menjadi rumah komunitas, tempat membaca buku, tempat bermain dan belajar bagi anak-anak kecil. Penduduk desa sering berkumpul di rumah itu, bercerita sambil menikmati segelas kopi.

Posluhdes berukuran cukup besar, memiliki empat pintu dan tiga buah jendela, sebuah perbandingan yang aneh untuk sebuah bangunan. Bukan hanya jendela, semua pintu tak ada yang berkunci ataupun gembok, hanya sebentuk kayu kecil yang dipaku untuk menahan, bisa dibuka dari luar. Tidak ada lampu, tanpa air dan kamar mandi, harus berjejak tanah kala menuju dapur. Sepertinya hanya serangga yang sanggup hidup di tempat ini.

Pada malam hari, saat lelampu berkelap kelip di kejauhan, rumah ini gelap gulita, hanya cahaya bulan dan bintang yang berpendar di atas sana. Dulu ada lampu pelita dari kaleng coca-cola, dapatlah membantu mata melihat benda-benda dalam rumah, sering pula kupakai bermain bayangan di dinding kayu. Beberapa minggu setelah kubuat pelita itu, rumah di samping pondok ini terbakar karena benda serupa. Takut. Pelita itu kubuang, lagian siapa juga yang mau rumahnya terbakar.

Posluhdes paling ramai di akhir pekan, terutama hari minggu. Para remaja dan anak-anak kecil bebas bermain di dalam, duduk di mana saja, sambil selonjoran sekalipun. Yang penting mereka mau membaca, hati sudah senang. Buku-bukunya kukumpulkan dari koleksi kawan-kawan yang kebetulan doyan baca, tapi bersedia menyumbang koleksinya untuk kami.

menggelar acara bedah buku, menonton film dokumenter, kursus komputer dan bahasa Inggris. Sebuah cita-cita mulia yang kadang kala tertunda kala periuk nasi minta diisi beras.

Masih jauh dari ideal, sebab dua prinsip utama pendirian Posluhdes yaitu swadaya dan kelola bersama belum diterapkan sepenuhnya. Kami sebenarnya juga ingin memanjakan keinginan para “pelanggan” Posluhdes. Ingin menawarkan tak terhitung judul buku, bisa membaca buku di sofa dan kursi yang cozy sembari menyesap segelas cappuccino. Ada juga cita-cita mendekorasi ruang baca untuk anak-anak dengan penuh warna, mengadakan kursus untuk menambah keterampilan remaja, serta pelatihan bagi ibu-ibu dan bapak-bapak petani. Namun untuk saat ini hanya bisa mengenalkan mereka nikmatnya membaca buku, mengajar anak-anak sekali seminggu serta berkebun sayur bersama di samping Posluhdes.

Bukan tentang kondisi rumah lapuk ini yang kukawatirkan, tapi hilangnya kebersamaan, memudarnya solidaritas dan prinsip gotong royong yang hampir punah. Semangat kampung hampir tidak ada lagi, setiap orang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Paling banyak warga berkumpul hanya kala ada pembayaran ganti rugi tanah mereka yang dibeli investor.

Banyak yang tidak menyangka bahwa di dalam gubuk reot ini sebenarnya ada harta, di dalam pondok kayu lapuk ini ada sesuatu yang sangat berharga. Tidak semua orang menyadari kehadirannya. Sesuatu yang dengan membaca tiap lembar darinya akan menambah wawasan seseorang, membuka jendela dunianya, melihat hal-hal lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Buku, ilmu pengetahuan.

PART II: SEJUMPUT SEJARAH

31 desember 2013, malam pergantian tahun di penanggalan masehi, hujan baru saja mengguyur Batupanjang, ibukota kecamatan rupat. di malam tahun baru yang penuh pesta dan kemeriahan, aku sementara sibuk menemani seorang kawan yang sedang sakit. rombongan kendaraan pemda bengkalis yang berisi bapak bupati dan jajarannya sore tadi baru saja melewati Batupanjang menuju ke rupat utara.

Bukan, bukan hal itu yang membuatku gembira, tertawa sendiri di kegelapan malam. Sebuah sms dari seorang kawan di desa tempatku bekerja, umurnya lebih muda dariku.

“ Kami sudah dapat tempat untuk dijadikan Posluhdes…” isi smsnya.

Karena sangat gembira, aku terlonjak kegirangan. Ideku untuk membuat sebuah pustaka sekaligus wadah kegiatan masyarakat di desa tercapai juga.

Kira-kira seperti itulah asal muasal pondok kecil yang sekarang kubersihkan, bersama warga, ketua RT dan Pak dusun kami perbaiki atap, dinding dan lantainya. Agar bangunnya kuat, agar kebersamaan kami terbangun.

Juni. Bulan ke enam yang menjemput kehadirannya, buku-buku telah mengisi sebagian sisinya, tersusun manis di  rak dan meja baca. Anak-anak kecil sering datang bermain ke pondok ini, sehabis madrasah dan amat ramai di minggu pagi. Mereka membaca, menggambar, dan bercerita. Kadang kala tentang kapal cepat yang membawa mereka ke dumai, “speed” istilahnya. Ada kalanya tentang bunga yang mereka gunakan untuk main pengantinan, bahkan tentang padi yang emak mereka jemur di pekarangan rumah. Katanya berwarna kuning. Hehehe. Mereka lucu, sangat lucu.

Tidak terasa sudah setengah tahun keberadaan Posluhdes, mengajarkanku banyak hal. Termasuk bahwa menghidupkan ide tidaklah semudah yang kukira. Butuh kerja keras, bantuan dari teman, dan orang-orang di sekitar kita. Dalam posisi meminta bantuan, maka hasil akhirnya bisa berhasil dan bisa juga tidak berhasil.

Tentang kebersamaan, salah satu hal yang kupelajari juga dari mengelola pondok kecil tempat membaca ini. Terima kasih pada pak Syawal yang telah rela rumahnya kami tempati.

Membawa buku dari kecamatan, kardus, lewat kapal dari bengkalis. Membantu membuat display Posluhdes, tempat brosur dan leaflet dari karung goni dengan anyaman wol, membonceng kardus buku, mengikatnya di belakang motor, agar tak jatuh di jalan berlubang. Tahu sendirilah kondisi jalan dirupat seperti apa.

Tentang kegagalan. Sebuah kegagalanpun seharusnya dicatat agar dapat dipelajari dan diperbaiki di masa mendatang. Ceritanya gini, kami berencana memperbaiki lantai, dinding dan atap pondok, kalau ada papan berlebih boleh juga buat bikin kamar mandi, plang nama dan rak buku. Tapi papan sekolah lama yang kami minta beri belum dikasih. Usaha sudah maksimal, seperti ketemu dengan pak kades, pak dusun dan kepala sekolah, mungkin belum waktunya. Plang nama mesjid yang lamapun pernah menjadi alternatif untuk digunakan sebagai papan tanda Posluhdes. Termasuk karpetnya untuk duduk, papan tulis, mading, rak koran, belum juga rampung.

Setumpuk kerjaan, setumpuk halangan dan setumpuk alasan, namun sebenarnya semua yang kutulis diatas bukanlah problem sesungguhnya.hampir semua yang telah kusebutkan tadi adalah tentang sarana dan prasarana, bangunan fisik. Sebenarnya yang menjadi persoalan utama yang begitu mengganjal adalah harus memulai dari mana membangun sumberdaya manusianya sendiri, dimana kondisi sosial kadang terasa pasif untuk melakukan seuatu,  mungkin permasalahan pendekatan yang kulakukan.

Pandanganku menggantung di atap rumah, sambil rebahan kusandarkan kepala pada setumpuk koran yang kubawa dari ibukota kabupaten. Sambil berfikir, mungkinkah harapanku terlalu tinggi, ketika masyarakat saja hampir kehilangan kepercayaan untuk bisa mandiri.  mungkinkah mimpiku terlalu muluk bahwa mereka siap berkorban waktu, uang dan tenaga untuk membangun desanya, mendirikan sebuah tempat untuk bertukarpikiran, tempat mendidik anak-anak mereka, tempatnya mendapat informasi dan membaca buku sehabis berladang. Tempat mereka bisa memberi arti pada kehidupan.

Aku bisa memfasilitasi mereka mengejar bantuan dengan setumpuk proposal. Tapi apakah itu jawaban atas segala ini? Mereka bisa berbuat lebih dari itu, mereka punya potensi lebih dari itu. Aku yakin. Aku sangat yakin. Keyakinan yang membawaku ke Posluhdes.

Kumelangkah pulang, telah masuk waktu magrib, dari dalam sebuah surau kayu, terdengar suara anak-anak kecil sedang mengaji.

Posting Komentar